Nearly Anniversary

Within 2 weeks, my marriage will step into 5 years old. For five years, I have been spending time with a same guy, which is my husband. And we’ve been blessed by two kids, a girl and a boy. Thinking back, I once wonder, what if I hadn’t gotten married 5 years ago? Or what if my husband and I decided to postpone having a child? If I hadn’t gotten married, I’m definitely still working. And I would be in Jakarta, or in any other city than Samarinda since I don’t like the city at all (I will talk about this in another post). If I hadn’t gotten married, I probably would travel a lot. I’d probably watch Coldplay concert last month. I’d probably still hang out with friends till midnight almost everyday, hahaha. But, I’ve been in that phase, and I was still lonely, even though I was surrounded by many fun friends. Well, I admit that there’s one thing I haven’t felt, which is the traveling part, so I couldn’t compare yet. But can anyone guarantee that I would be happier if my condition is different? If I am still free and single and can go anywhere I like? 

The answer is here..

Everytime I look at my baby’s face, I wish I could freeze time. I wish I could hug and kiss my baby as much as possible. I wish he didn’t grow up so soon. But I also can’t wait to see them growing and I don’t want to miss it, even just a bit. And everytime I feel my husband’s hand in mine and his chest in my cheek, I wish we could be like that forever. 

So, you know the answer. I’m truly happy with my marriage. My husband is not perfect but neither am I. My husband is not perfect but he completes me. He may not say “I love you” everyday, but I know he does. I know he is a very loyal husband and there’s no reason for me not to trust him and not think twice when he proposed a marriage. And you know what, we never fight for these years. Twice or three times in the early years of our marriage, there were “crash” moments between us, but it never stayed long, never made us yell or say bad words to each other. When it happened, when I or both of us got mad, I just cried and my husband made a silent treatment to me. But I’m glad in the last 3 years, we never get mad anymore. 

And as for the kids, I can’t imagine my life without them. When my kids were born, I found a new passion. To be their first teacher. To be their first best friend forever. So I don’t regret at all to have them as immediately as possible after we married. I don’t regret at all to choose these roles, a housewife and a mother. I am looking forward to many of our anniversaries in the future. 

Disliking Monday

It’s 4 am in the morning. It is raining hard. And have been blackout for 2 hours already. I am hungry but too chickened out to get out in the dark, haha.. Normally I would start the day right now since I think it’s just useless to try to sleep again (especially when your tummy’s grumbling). So here I am, waiting for the lights on while hoping to delay the Monday routine as long as possible. Why? Because other than it’s obviously Monday, but also because my husband plans to go out of town until tomorrow. 

Lately, I feel tired doing all the houseworks while handling my 4 year old toddler and a baby who is currently learning to walk from 8 to 6 by my self. And to face it for two days in a row without my husband? Brace myself. Yeah, I don’t know why I don’t enjoy my routine as usual. Usually I am okay with just me and my kid at home, even enjoyed it. But right now I’ve been stressed out, mostly by my baby’s food. Everyday I wake up by thinking “what should I make today for my baby wants to eat?” I wish he could just tell me what he wants and I will make it. Hahahaha.. But he is a baby of course. I know my baby and I prefer Baby-Led Weaning (where you let your baby eat by himself mostly) method but it’s still a very hard work, you know. It’s not easy, but they say it’s worth it. And the other problem is I am not so creative in cooking, so cooking for me is not a fun thing. Cooking is just a responsibility for me. I still much enjoy the role as a teacher to my children rather than a chef, really. This as fact, I can enjoy hours spending to make something for my children to learn but I hate spending hours just in a kitchen. Cooking would be less stressful if I don’t do it while hurrying since I can’t let my baby without me for a long time. So, I just have to be patient, but it’d feel much easier when your husband helps me too through the day.

It’s already 4:30 am in the morning. The light’s already on, thanks God. I’d better get out of my room and start the day to make my morning feel manageable. Please, kiddos, be nice.

P.S : I wish I had chocolate

Curhatan Tiap Pagi Saat Ini

Sering banget punya rencana seperti ini tiap malam : besok mau bangun siang dan gak usah masak! Mikirin rencana sederhana seperti itu buat seseorang yang memiliki peran sebagai ibu rumah tangga adalah sesuatu yang amat sangat menyenangkan. Tapi, tiba-tiba gw langsung inget sesuatu : gw lagi ada bayi woy! Langsung lah rencana sederhana namun berasa surga itu langsung lenyap seketika. Hahaha yah begitulah, kalau lagi ada bayi, yang bikin senang itu amat sangat tidak muluk2. Bukan lagi perlu nonton tiap minggu di bioskop atau karokean di Happy Puppy. Cukup mengimpikan bisa mandi lama sendiri tanpa interupsi tangisan atau teriakan, atau sekedar bisa begadang baca novel kesukaan atau maraton serial tv kesayangan tanpa memedulikan besok harus bangun jam berapa atau masak apa buat anak-anak atau harus kasih aktivitas apa buat mereka bermain sambil belajar.

Tapi, tau gak sih? Semalas-malasnya gw memulai hari tiap pagi, tapi tiap liat anak-anak bangun dan mereka tersenyum (terutama si bayi yang lagi lucu-lucunya hahaha), pasti langsung kembali semangat 45 untuk bersibuk-sibuk ria di rumah. Coz I know that this moment won’t last long and won’t last forever. My baby will only be a baby in short time. Soon in the future I’d feel how time flies seeing my children suddenly has grown up and I’d miss these moments. Jadi, seberapa rempongnya urus anak2 sekarang, I just have to enjoy it as long as they’re still little, coz they’re not little forever! Lalu tiba-tiba jadi mellow deh saya, hahaha.

#curhatanpagiharidikalayanglainmasijtidursementarasayaharussudahstandbydidapur

Thanks God It’s Friday

Setiap ketemu hari Jumat dari dulu selalu bersyukur. Loh emang bukannya buat ibu yang kerja seharian di rumah semua hari itu sama saja? Haha ya enggak lah ya. Urus anak sendirian itu capek. Capek pikiran, hati, fisik. Bahkan bisa lebih capek dari kerja kantoran. Kalau weekend ya senang banget karena ada suami yang bantuin urus anak dan pekerjaan rumah. Trus bisa jalan2 sekeluarga buat refreshing. Sangat berharga buat saya yang sekarang makin jarang punya me-time. Jadi, saya bersyukur hari ini sudah Jumat. Besok weekend dan bisa jalan-jalan yayyy!

My Smiley Boy

Beda anak beda cerita. Anak saya yang kedua, baby D, yang masih bayi ini suka banget senyum. Gampang banget bikin dia tertawa. Trus beda dari kakaknya yang pas bayi cuma mau digendong oleh orang2 rumah atau yang sering dilihat, nah si baby D ini mah ga protes digendong sama orang baru ataupun sama orang yang jarang dilihat. So lucky to have this little guy in our family 😘.

7-months old baby D

Why SAHM?

Kenapa gw memilih jadi stay-at-home mother?

Ok, yang pertama, alasan awal gw resign dan memilih urus anak sendiri adalah karena ketidaknyamanan suasana kantor. Gak win-win solution rasanya kalau gw ga enjoy kerja dan ga enjoy mikirin anak diurus orang lain. So, mending gw pilih keluar dari kerjaan yang super ga nyaman itu.

Kedua, maybe because I am a bit of a perfectionist person. Ketika gw dapat ilmu2 parenting, gw merasa harus gw sendiri nih yang nerapin. Gw merasa orang lain ga akan bisa sesuai ekspektasi gw dalam asuh anak gw. Terutama kakek-neneknya ya, tau sendiri kan betapa soft nya mereka sama cucu2nya. Kalau terpaksa, gw lebih baik hire orang lain yang masih terbilang muda, yang masih bisa gw kasih tau, ajarin, educate sesuai yang gw mau. Kan mereka dibayar untuk itu toh? Tapi tetap rasanya gw ga percaya orang lain bisa sesuai ekspektasi. Kalau orang lain mungkin bisa ya gimana ajarin pengasuh buat ikut didik si anak. Kalau bisa ya it’s okay, karena jadi SAHM atau Working Mother itu sama2 bagus kok yang penting happy. Karena saya ga happy jadi working mother di kantor lama saya ya, I chose other option. Pun udah dapat pengasuh yang oke, entah gimana gw liat tetep banyak yang bertahan lama. Tetiba pulang kampung lah biasanya jadi mesti pusing lagi cari pengasuh baru, lalu adaptasi lagi, lalu ajarin lagi. Gitu terus berulang2. Kasus yang gw liat banyak banget terjadi di teman2 gw. Jadi, kalau gw sih lebih pusing punya pengasuh daripada kerja jauh dari anak. Buat gw sih ya begini, kan tiap orang beda2 toh..

Ketiga, karena gw jadi mikir untuk melakukan bisnis atau kerjaan freelance sendiri dari rumah. Kata siapa SAHM itu mesti ga bisa menghasilkan duit? Banyak teman wanita gw yang berbisnis sambil urus anak dari rumah. Trus kalau bosen di rumah ya keluar aja jalan sama anak. Or playdate-an, ajak teman lain yang juga punya anak untuk main2 bersama di mall or anywhere possible. This is what I often do. Saya ikut komunitas yang kegiatannya playdate2 bertemakan aktivitas bermain sambil belajar. Memang seharian ngurusin anak, ngobrol sama balita dan seharian dicerewetin sama anak tuh bisa bikin otak konslet memang 😁. Solusinya, ya kalau bisa kesepakatan ama suami untuk me time sejenak barang 2 jam aja itu udah refreshing banget. Kalau gabisa, playdate-an sama teman2 senasib itu juga membantu sangat. Jadi kata siapa SAHM itu melulu di dapur dan bau terasi? Hahaha, gw honestly jarang kali ke dapur.

Menurut gw, tugas jadi ibu itu udah berat. Pekerjaan tersulit namun dibayar termahal, karena dibayarnya dengan cinta. So, prioritasnya adalah bukan cari uang. Tapi cari kebahagiaannya dulu. Kalau memang happy nya kerja ya silahkan jadi working mother. Kalau happy nya ga kerja kantoran ya gausah pusing, jadi SAHM aja rasanya memiliki kepuasan tersendiri, biar suami yang bertugas utama cari uangnya. Kalau memang jiwanya SAHM, tugas utama kita ya keluarga kita, masalah uang sebaiknya tidak jadi fokus utama si ibu jika ada ayah yang bisa menopang keluarga. Kalau saya yakin, jika sekarang belum bisa aktualisasi diri dalam menghasilkan uang, akan ada saatnya nanti saya bisa ikut bekerja. Memang jika masih ada bayi dan anak balita masih sulit bagi waktu. Saya gamau terlalu pusing karena nanti malah anak terbengkalai. Kita bersabar aja, jika sudah waktunya dan ada kesempatan pasti bisa. Bener kan? hihi..

About Gratitude 

Memiliki anak membuat saya bukan hanya belajar sabar, tapi juga belajar bersyukur. Dua pelajaran yang tidak didapat dari sekolah. Dalam bersabar aja masih susah banget ya, jadi bener2 mesti belajar, berlatih, dan ingat2 terus kenapa mesti sabar. Bersyukur juga mesti begitu. Mesti diingat2 tiap hari dan dirasakan. Supaya apa? Supaya bisa bahagia. Kalau gak bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita bakal selalu merasa orang lain lebih bahagia, lebih segalanya dari kita. Apa yang dimiliki oleh orang lain selalu menjadi beban buat kita. Kita selalu merasa kurang dan kurang. Tidak pernah cukup. Apa enak hidup seperti itu? Padahal juga apa yang kita miliki di dunia ini hanya sementara.

Nah salah satu hal yang paling saya syukuri yang terjadi dalam hidup saya adalah bersyukur Tuhan memberi saya 2 anak, perempuan & laki2, yang sehat2 semua. Bersyukur  kami, sebagai orang tua, diberi rezeki yang cukup untuk menghidupi mereka dan mendidik mereka. Bersyukur diberi kepercayaan dan amanah oleh Tuhan dalam bentuk 2 malaikat kecil kami ini. Meski kami tidak hidup mewah, liburan aja jarang, hahaha, tapi tentu saya masih sangat bersyukur dengan keadaan kami. Saya tidak boleh mengeluh. Bagaimana mungkin saya mengeluh kalau ada teman saya yang berjuang tiap hari demi melaksanakan pengobatan anaknya yang mengidap penyakit yang memerlukan terapi seumur hidup? Bagaimana mungkin saya bisa iri dengan teman2 yang bisa liburan ke Eropa jika ada teman saya yang rela menjual motor, hp, dan barang2 lainnya untuk mendapatkan uang demi kelancaran pengobatan anaknya? Teman saya itu pun masih bisa bersyukur dengan kondisi anaknya, apalagi saya. 

Hal2 seperti ini yang saya harapkan dapat dipahami oleh anak2 saya sedini mungkin. Kemampuan untuk bersabar, besyukur, dan berempati. Karena, percaya atau tidak, ada satu teman saya yang hingga di usianya yang sama dengan saya masih suka iri dengan orang lain. Selalu membanding2kan dan tidak mau merasa kalah hingga rela bohong demi menunjukkan kalau ia lebih hebat. Percayalah, manusia seperti itu ada, dan dia orang dewasa pula, bukan lagi anak2. Bikin saya geleng2 banget kalau inget teman saya yang satu itu. Jadi, penting sekali kita mengajarkan nilai2 seperti itu kepada anak kita. Dan tentunya untuk bisa seperti itu, harus dimulai dari diri kita. Karena anak2 pasti mencontoh orang tua nya, bukan begitu? They said that kids don’t follow your advise, they follow your example. Banyak banget ya yang harus diajarkan ke anak. Bukan cuma diajarkan tapi dilakukan, mesti setiap hari pula biar jadi good habits. Pe er jadi orang tua banyak banget yah.. 

Two Thousand and Seventeen

I’m not sure how I’m gonna face this year. Since in this year, in about 7 months more, I will be officially 30. Thirty! Ten years ago, I freaked out that I was no longer teenager and now suddenly it’s 10 years later??? How did time fly so fast? I am a mother of two, yet I still can’t accept the fact that I’m gonna be thirty, hahaha.. And my mind has been racing that 10 years more then I’ll be 40 😣.. 

Okay, so now I have to stop worrying about my age. Getting old is something people must accept, whether they want to or not (#talktomyself). Now I must really do useful things and not wasting more times. If I want to live long, then I must live healthy, right? So, starting this year, my family and I will live healthier. Is that my 2017 resolution? Absolutely. In this year, I’ll do something productive too. No matter how small I’ll earn, I have to be a productive woman and mother. I promise I’ll also be a better mother for my children. I’ll educate them as best as I could. And pray to God, that this year will be much better than last year for me.

Belajar dari Office Boy dan Tukang Sayur

Ada seorang office boy kantor yang masih saya ingat dan kemungkinan besar akan selalu saya ingat, padahal cuma kenal selama 3 bulan. Dia mungkin menurut kalian hanya seorang office boy. Tapi sebenarnya buat saya semua pekerjaan itu penting. Tanpa office boy, siapa yang akan merawat kebersihan tempat kerja? Dan yang paling penting buat saya bukan melihat tingginya jabatan seseorang, saya paling suka liat orang yang kerjanya semangat dan ceria. Contohnya, si OB yang saya maksud ini. Namanya entah kenapa unik banget, namanya Emen. He might have been the most cheerful office boy I’ve ever seen. Tiada hari baginya tanpa senyuman. Dia bekerja dengan senyum. Bahkan sambil nyanyi2, saya liat dia sering ngepel sambil memasang earphone musik di telinganya. Dia sering ajak saya ngobrol, becanda, dan senyum. Saya sampai terharu liat dia. You know what it means? It means that he enjoys his job really much. It means that he is grateful everyday for his job. Terus saya jadi malu sendiri. Secara gaji, saya lebih besar, but I still complained a lot about my job. But then I looked at Emen, and realized that I should be more grateful and less complaining. I should enjoy more my job. Emen aja bisa enjoy dan menebar senyuman tulusnya dengan mengepel lantai, masa saya tidak bisa enjoy dan merengut ngerjain excel segambreng? Emen si Office Boy jadi reminder saya waktu itu untuk sering2 tersenyum dan menikmati pekerjaan kita, apapun bentuknya.

Kini, saya beralih status menjadi seorang stay at home mother (SAHM) alias ibu rumah tangga (IRT). I am very grateful for my current role. But I also wish for more. Saya ingin berpenghasilan juga walau jadi IRT. Saya ingin punya bisnis sendiri. Masih sering mengeluh sekarang kenapa saya belum punya skill yang pas buat berbisnis dan belum punya waktu yang lowong juga untuk menekuninya. Suami memang kerja, tapi selain ingin mandiri juga (in case kan terjadi sesuatu maka kita sebagai istri tetap bisa survive) juga karena ada rasa ingin aktualisasi diri. Ingin berkarya. Dan setiap melihat teman2 saya ada yang mulai bisnis sendiri meski sambil kerja, saya iri banget rasanya. Di tengah2 itu, saya merasa kembali diingatkan oleh Tuhan. Saya melihat tukang sayur langganan saya setiap hari tersenyum dengan ramah dan ceria setiap menghampiri saya dengan motornya. Meski baru kenal, dia bercanda terus bawaannya. Bahkan ngegaring, hahaha.. Saya mau keluar pun ia sapa. Again, saya merasa diingatkan untuk tetap senyum dengan keadaan saya. Tetap bersyukur masih diberi rejeki banyak walau saya ingin lebih. Kalau tukang sayur aja bisa enjoy jadi tukang sayur, maka saya harus bisa lebih enjoy dari dia menikmati peran saya. Saya harus bisa bersabar. Sambil mencari2 kesempatan bisnis dan belajar, saya mesti sabar karena memang saya sekarang masih rempong dengan mengurus 2 anak, satunya masih bayi 4 bulan pula. Saya yakin akan ada waktunya dimana saya bisa mulai bisnis dan saat itu saya bisa bereksperimen apapun. Sabar dan tetap ikhlas intinya ya… 

Belajar dari office boy dan tukang sayur.. Saya mendoakan yang terbaik buat mereka. Bagi saya, pekerjaan mereka sangat mulia, karena secara tidak mereka sadari, mereka mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan tersenyum di segala kesulitan dan keadaan. Hal yang sering sulit dilakukan dan dilupakan. Betul kan?

What do you love?

I love all kinds of chocolate..

I love the sound of the rain…

I love the cool air of mountain…

I love romance novels…

And mystery ones, as well…

I love crowd… but not too crowded…

I love the sky view from my window seat…

I love singing my favourite songs…

I love driving in my car…

And I always love being in the middle of my loved ones and make them laugh… 

Now you see, happiness doesn’t need to be expensive and complex.. It’s actually cheap and simple 🙂