Persahabatan Bagai Kepompong

Yang namanya sahabat emang ga mesti ketemuan tiap hari. Gak mesti juga ngobrol tiap hari. Apalagi kalau sudah ada keluarga sendiri (baca: punya suami dan anak) masing-masing. Frekuensi pertemuan kami memang sangat jarang. Sulit dilakukan sering-sering, berhubung kami banyak terpencar di luar Jakarta. Tapi begitu kami berkumpul, keakraban itu masih ada. Kehangatan yang terasa masih sama. Bahkan terasa lebih hangat dikarenakan ada rasa kangen lama tak bertemu yang kami rasakan. Dan mereka tetap berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak hingga menangis. Oh, it feels so good to be with them. That’s what friendship do. Kami mulai berkenalan di tahun 2005. Sekarang sudah 2015. Berarti persahabatan kami sudah terjalin selama 10 tahun lamanya. Ten years and still counting. I hope that our friendship will last a lifetime. Sampe punya cucu-cicit kalau bisa. Harus reunian setiap ada kesempatan. Amen to that.

This is us.. minus Disha (yang mesti balik ke Prabumulih lagi)

image
Karin-Me-Shelly-Wulan-Fitria
image
With the couples and kids (minus my husband and Karin’s baby)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s