Monthly Archives: January 2016

K’s New Ride

image

Hihi.. somebody is super duper excited riding her new bike. This is Audrey Kaira Anindita, 32 months old. Karena masih sedikit taman kota di Samarinda, yang ada pun jauh dari rumah, jadi kami sekalian aja olahraga di stadion saja. It has always been exciting to see our kids trying new things. Semoga tahun depan sudah bisa roda dua ya nak..

Advertisements

Friendship and Love Affair

Menurut saya, lebih nyebelin sakit hati sama teman daripada sama pacar. Kenapa begitu? Ya karena true friends are not supposed to hurt their friends’ feeling, right? Terlebih lagi yang udah masuk kategori teman dekat or best friend. Saya termasuk orang yang easygoing dan gampang akrab. Sejak jaman sekolah saya memiliki banyak teman akrab. Bisa dibilang saya tergabung dengan beberapa geng.. Ada geng temen kelas 3 sma, ada geng teman sma muslimah, ada geng BFF kuliah, ada geng ‘lansia’ dari siaware 16, bahkan saya jg dulu akrab dengan geng yang isinya orang cina semua, hahaha ya begitulah saya memang orangnya murahan. Gampang diajak jalan, nonton, makan. Begitupun ketika kerja, setiap masuk kantor baru, saya biasany pasti mudah dapat teman akrab. Salah seorang sahabat yang saya kenal dari MT program bilang kalau saya orangnya extrovert sejati.

Di tempat saya ditempatkan secara permanen, saya akrab dengan salah satu teman kantor cewek, yang sebenarnya dia cukup kebalikan dari saya, karena dia suka dandan, pake high heels or wedges, suka beli tas2/sepatu2 terutama bermotif leopard, seorang fashionista deh.. Tapi kami nyambung banget karena kami sama2 suka heboh dan usia dia cuma 2 tahun lebih muda dari saya. Kami di kantor kemana-mana lengket. Makan siang selalu bareng. Pulang sering nebeng orang bareng karena rumah kami berdekatan. Ketika saya sudah memiliki mobil, kami makin sering bareng, dari berangkat kerja sampe pulang kantor. Even ketika dia akhirnya juga mengendarai mobil sendiri, tak sering mobil kami beriringan berjalan ke dan dari kantor. Kalo dia ga masuk kantor, pasti saya ditanya “kemana mba M?”. Kalo saya ga ngantor juga orang pada nanyain saya ke dia. Everything seems allright sampai akhirnya saya mengetahui rahasia dia. Bukan sekedar rahasia tapi itu adalah skandal. Teman saya itu terlibat hubungan asmara (diam2 tentunya) dengan seorang manager kami. Awalnya saya hanya menduga, melihat betapa akrabnya mereka. Terutama pas kedua org itu ngobrol. Saya sering banget diajak makan siang di luar oleh teman saya itu bersama si pak manager. Kadang ramean, kadang cuma kami bertiga. Dan ya saya notice dong how they talked to each other. Tapiii saya nih orangnya selalu mencoba positive thinking. Ah paling deket biasa doang secara teman saya itu emang orangnya supel banget. Itu pikiran awal saya. Sampai akhirnyaaa saya gak sengaja melihat contact BBM dia, yang intinya membuktikan kecurigaan negatif saya bahwa ada apa2 di antara mereka. FYI, kenapa disebut skandal ya karena dua2nya udah married. Yang cewek baru married tapi LDM (suaminya kerja di site pulang tiap 2 minggu) dan langsung hamil setelag nikah, yang cowok juga still married that time dan udah punya 2 anak!

I just kept silent. She never told me a thing about her secret affair. Dia selalu menutupi dengan menceritakan betapa bahagianya dia dengan suaminya. Dia selalu ceria setiap saat di depan saya. Well, saya biarin aja deh. Kami baru akrab setahunan, mungkin affairnya sudah dimulai lebih lama dari itu juga, dan jika dia tidak mau menceritakannya ke saya, no problem. It was her own right. I won’t interfere or mencampuri urusan rumah tangganya. Palingan hubungan dia dengan si pak manager won’t last forever (pikir saya), karena si pak manager terbukti termasuk ‘pria nakal’, karena ada sekretaris lain yang digoda oleh dia ketika teman saya itu sedang cuti melahirkan. Apalagi setelah si pak manager tersangkut masalah dan ‘dipaksa’ mengundurkan diri dari perusahaan, lalu saya pun resign, dan sebulan kemudian teman saya itu juga resign. Saya kira their stories didn’t continue. Ternyata oh ternyata dugaan saya salah.

Meski sudah keluar dari kantor, somehow kuping saya tetap menerima gosip. Sumpeh, bukan saya yang kegatelan nanya2, tapi orang2 yang pada sukarela ngasih berita ke saya dan nanya2 ke saya soal teman saya itu. Setiap ketemu or chat sama orang kantor hampir pastiii ditanya soal teman saya itu. Wah, orang2nya udah pada keluar eh malah makin hot berita soal mereka. Dan justru makin jadi rahasia umum. Kenapa? Karena si pak manager tetiba menceraikan istrinya. Lalu kerja di Jakarta. Dan berita ultimate nya nihh… beberapa bulan kemudian, teman cewek saya itu juga cerai dari suaminya. Entah tau dari mana mereka, yang jelas bukan dari teman saya itu. Dia masih serba tertutup dan sempat memberi kebohongan kepada kami (teman2 dekat kantor). Dia bilang suatu saat bahwa hari lebaran kedua dia keliling2 ke bos-bos suaminya, padahaaaal suaminya sudah menikah lagi (gak lama dari cerai juga) dan foto pernikahan kedua sang mantan suami sudah beredar juga. Sebenarnya disitu saya sudah merasa kecewa. Why did she have to lie and pretend? Everybody else already knew. Didn’t she know that? Did she think I was that stupid? Ah saya mulai gak peduli dengan dia. Jika dia tidak peduli dengan perasaan saya yang pernah akrab dengan dia, so why should I care?

Sampai akhirnya dia mulai go public. Foto pak manager dan dia mulai nampak di sosmed, walau cuma tangannya doang or profil belakangnya doang. And still told me nothing. Lalu dia mulai sebar undangan dan foto prewed. Okay, I tried to understand. Mungkin dia dulu malu, mungkin dia sadar hubungan mereka diawalinya salah. Tapi kan udah ga malu lagi tuh, udah buka2an, harusnya saya, yang pernah akrab, cerita sana-sini, dan kemana2 suka bareng, bakal diundang dong ya ke nikahannya? Dia harusnya kenal saya gimana dan tahu dong ya kalau saya bukan tipe orang yang backstabber or suka buka aib teman sendiri ke orang lain, dan saya buka orang yang suka judging teman hanya dari penampilan or masalah luarnya saja. I am a very loyal friend. She should have known that. But still… saya gak diundang. Tak seorang pun orang kantor or yang pernah sekantor dengan dia diundang. Saya gak diundang sementara dia sebar2 foto nikahannya di sosmed. Saya jadi gak paham dengan dia. Dia masih sok akrab dengan saya di sosmed (ngomongin hal lain tentunya), tapi sama sekali gak undang saya.

I honestly wanted to congratulate her. However their relationship started, however we think about her new chosen husband, she seems much happier now. I hope that her new husband has really changed and not cheating anymore and their marriage lasts happily ever after. I really do hope so, since I cared about her, since she had also cared about me and helped me through a lot. I’d never judged her bad if only she shared her new happines with me, if only she just told the truth.

So until now, I never congratulate her. It did hurt me how she could do that. Jadi pembelajaran dari cerita saya ini apa ya? Bahwa meskipun kami sudah begitu sering saling menolong dan bercerita, but she never really thinks that I’m her true friend? Bahwa saya juga mestinya tidak terlalu baper kepada teman yang sudah saya anggap sahabat? Kesimpulan saya adalah ya she never really becomes my true friend, then. For now, I don’t give a damn about her.