Monthly Archives: July 2016

Kreasi Mainan dari Kain Flanel

You know you’re a mother when you learn how to sew a toy for your kid(s). Ain’t it right? Kalau dulu sebelum beranak, skill menjahit saya mentok pada skill tusuk jelujur (itupun gak rapi) dan jahit kancing paling. Jadi saya pun cuma punya benang hitam, putih, merah, dan sebuah jarum hanya jika ada kancing baju lepas aja. Mana ada pikiran mau belajar jahit waktu itu? 😁 

Suatu hari saya kepikiran untuk membuat sebuah busy book yang terbuat dari kain flanel / felt untuk K yang masih berusia 7 bulan waktu itu supaya dia anteng di dalam pesawat. Eh tapi first time itu saya gak pake jahit bikinnya, karena belum bisa jahitnya bo’. Tapi ini awal mulanya saya jadi belajar jahit nantinya. Alhasil ya pertama itu pake hot glue gun aja. Gunting tempel-tempel kelaaarrrr. Ini hasil busy book pertama bikinan saya. Yaaahh not bad lah yaaa…

Nah ternyata busy book nya lama-lama bisa lepas-lepas tempelannya karena ditarik-tarik sama si bayi. Jadilah saya berniat mau bikin lagi tapi yang dijahit, biar awet. Lalu, saya menemukan buku ini di toko buku.

Bukunya berguna banget karena selain jelasin cara-caranya juga disediakan contoh-contoh polanya. Langsung lah saya beli bahan-bahannya terus beli juga benang-benang yang lengkap warnanya lalu eksekusi dah. Dan hasilnya waktu itu saya berikan kepada anak sahabat saya. 

Senangnyaaa liat anak sahabat ini suka mainin busy book hasil jahitan perdana saya yang ala kadarnya dan walau masih ada errornya 😆.

Ternyata bikin beginian nagih loh karena berikutnya saya buat lagi sebuah busy book buat K. Contoh-contohnya saya lihat dari internet, ada banyak banget kok contoh dan polanya. Tinggal gugling aja kok 😆. Sebenarnya mau bikin juga pake mesin jahit, tapi ya saya belum bisa pakai mesin jahit. Mesti belajar dulu, ke nyokap mungkin yang jago jahit, haha. Anyway untuk sekarang jahit tangan aja cukup lah ya, kecuali kalau mau dijualin baru deh belajar mesin jahit.

Oiya saya juga pernah bikin finger puppet nya Peppa Pig family dari kain flanel karena K suka banget sama serial kartun Peppa Pig.

Peppa Pig finger puppet

Selain itu, flanel bisa juga dipakai untuk mainan ‘membuat pizza’. Yang ini mah gak pake jahit-jahit sama sekali, cuma digunting aja jadi. K suka banget mainin ini, selain melatih motorik halus juga belajar berhitung 😆.

Pizza Flanel

Bisa juga untuk membuat mainan memory game (pakai hot glue gun aja tanpa perlu jahit) atau DIY Montessori dressing frame yang sangaaaat berguna untuk latihan practical life skill balita. Ya pokoknya mah so many things bisa dibuat dari kain flanel.

Felt Memory Game
DIY montessori dressing frame

Dan terakhir kemarin K ( 3 tahun) minta saya bikinin tea set dari flanel yang ada di buku itu juga. 

Kalau kreasi lain yang lebih advanced, seperti yang pake dakron isinya itu, saya belum pernah coba bikin. Maybe next time mau coba. Kalau gak sempet or gak bisa jahitnya tapi kepengen juga punya busy book flanel, bisa beli aja kok karena udah banyak yang bisnis jualan busy book macam gini, tapi ya tetep kalau bikin sendiri buat anak ada rasa kepuasan tersendiri kan yaaa…

Resep Homemade Playdough

Berhubung saya suka lupa orangnya, jadi saya tulis resep homemade (edible) playdough di blog ini. Jadi, kalau saya lupa tinggal cari di sini 😊. Sesekali saya buatkan playdough untuk anak saya. Kalau mau anak anteng main sendiri lama, kasih aja deh playdough, doi bakal anteng main sendirian sementara kita bisa leluasa ngerjain pekerjaan rumah or pekerjaan lain. Lalu kenapa homemade? Naturally kalau homemade jelas lebih murah (emak hemat hehe), lalu kalau homemade playdough yang dimasak berarti lebih aman untuk balita yang masih suka masukin benda ke dalam mulut, ya kan? Jadi kalau gak sengaja kemakan masih aman lah. Playdough sangat berguna sebagai open ended play, mengembangkan kreativitas & imajinasi, serta melatih motorik halus anak.

Nah untuk resep homemade playdough macem-macem yah, tapi saya paling suka menggunakan resep yang pernah diposting oleh @ayomain di akun Instagramnya, karena suka dengan hasilnya yang lembut sekali dan tidak lengket di tangan. Berikut bahan dan cara membuatnya.

Bahan:

  • Tepung terigu : 1 cup
  • Krim Tartar : 2 sdm; merk Koepoe koepoe, ada label halalnya.
  • Minyak Sayur : 1 sdm
  • Garam : 1/3 cup
  • Air : 1 cup (250 ml)
  • Pewarna makanan

Cara membuat:

  1. Campur semua bahan cair : Minyak, air, dan pewarna makanan.
  2. Campurkan semua bahan kering aduk sampai rata.
  3. Campurkan kedua campuran tersebut di atas dan aduk hingga rata.
  4. Panasan pan/penggorengan di atas api kecil.
  5. Masukkan adonan lalu aduk hingga mengental dan tidak lengket serta tidak meninggallan sisa di atas pan.
  6. Dinginkan dahulu, lalu dough siap dimainkan.

Option: Jia ingin membuat banyak warna, bisa juga adonan polos dimasak terlebih dahulu. Jika sudah matang dibagi menjadi beberapa bagian kemudian teteskan pewarna pada adonan polos dan uleni hingga warna tercampur rata. Tapi kalau saya sebelum dimasak dibagi dulu adonan polosnya ke beberapa mangkok lalu teteskan pewarna makanan lalu dimasak deh.

Oiya supaya awetnya lama, playdoughnya kalau sedang tidak dimainkan disimpan di wadah tertutup rapat. Begini hasil playdoughnya.

Beragam cara bermain sambil belajar dengan menggunakan playdough untuk balita kesayangan:

Bahkan playdough bisa dibuat menjadi alat peraga. Seperti di bawah ini, saya membuat alat peraga gigi manusia untuk mengenalkan K pada nama-nama gigi, karena waktu itu K bertanya kepada saya apa nama gigi ini, apa nama gigi itu. Jadi setelah dibentuk, dough bentuk gigi yang putih itu dipanggang sampai keras.

Semoga bermanfaat ya 😊…

Beragam Mainan Dari Kotak Kardus Bekas

Mainan itu gak perlu mahal. Mainan itu gak perlu beli. Caranya? Yaa bikin dong. Bahan favorit saya bikin mainan anak adalah kardus bekas. Kardus bekas sereal, kotak sepatu, kotak air mineral, apapun deh bisa. Kalau gak ada ide desain atau gak tau caranya? Gampang cyiinn.. Tinggal googling ajah. Misal dengan keyword “shoebox craft” atau “cardboard box toy”, dan lain-lain. 

Ini ada beberapa contoh mainan dari kardus bekas yang pernah saya buat untuk anak saya.

– Oven mini untuk memanggang pizza dari kotak sepatu bekas, since K loves cooking pretend play. Well, who doesn’t? 😀

– Kasir mainan. Berguna untuk pretend play jual-beli, sehingga anak bisa mengerti cara jual-beli serta kapan dapat kembalian & kapan tidak (otomatis mengenalkan konsep matematika pertambahan/pegurangan).

– Mini zoo alias kebun binatang mini, since K loved to play with her animal figurines.

– Diorama bawah laut yang sempat ngehits sejagat Instagram raya. 

– Mobil-mobilan.

– Puzzle. Bisa puzzle memasangkan bentuk hingga puzzle berbentuk kubus.

– DIY Montessori Sand Paper Letters / Numbers, yang berguna untuk kegiatan tracing.

– Lacing Shoes, untuk anak latihan mengikat tali sepatu.

– Maze from cereal box. 

Tentunya masih banyak banget mainan yang bisa dibuat dari kardus bekas. Makanya saya paling happy tiap dapat kardus yang tak terpakai. Selalu disimpan gak pernah dibuang lagi sekarang. Bikin mainan seperti ini juga bisa ngajarin anak untuk recycle barang dan ngajarin anak bahwa mainan itu gak selalu harus beli. Kalau bisa bikin sendiri, kenapa tidak? Juga bisa menambah kreativitas kan? Juga, tiap ke mall, K sih so far gak pernah merengek-rengek minta dibelikan mainan yang dijual. Jadi, manfaatnya juga bisa untuk meminimalisir tantrum anak kalau jalan keluar. Yuk mulai sekarang, jangan buang kotak kardus bekasnya yah..

Modus Penipuan Baru : Pemasangan Alat Penghemat Listrik Indos*ver Secara ‘Gratis’

Suatu hari, ada 2 orang pria (yang bersikap murah senyum, ramah, dan SKSD) datang mengatakan awalnya mau survey. Dia tanya-tanya berapa daya di rumah saya, berapa rata-rata bayar listrik perbulannya, dan paling besar pernah bayar berapa. Lalu dia pun bilang bahwa saya adalah salah 1 dari 15 orang yang beruntung (keren banget kedengerannya) yang diberi sebuah alat penghemat dan penstabil listrik secara gratis bermerk Indos*ver. Dia menunjukkan sebuah diagram dan juga tabel yang memperlihatkan bahwa harga barang itu di pasaran normalnya Rp 1 juta, kalau promo jadi Rp 800 ribu. Nah saya sebagai salah 1 yang beruntung akan diberi free (dalam hati.. wahh enak sekali), cukup bayar Rp 299 ribu sebagai uang garansinya. Wait a minute! Sejak kapan ada istilah uang garansi? Trus masa sampe 300 ribu? Curiga mode : ON. Saya lihat pun barangnya kecil saja. Dalam hati pun mempertanyakan masa harga barang kayak gini doang sejuta? 

Saya gak mau tertipu tapi saya orangnya gak enakan (untuk menolak atau mengusir, hadeh..). Awalnya saya bilang saya ga ada cash (beneran lagi gak ada cash sebanyak itu di dompet), lalu dia bilang mau kasih no rekeningnya. Alhasil saya bilang aja kalau saya mau pindahan (this is true) lalu rumah ini punya mertua dan nanti akan dikontrakkan (true juga), jadi saya suruh mereka konsultasi dulu kalau mau pasang alatnya ke mertua saya yang tinggal beda 2 rumah dari rumah yang saya tempati ini. Lalu pergilah mereka dan saya pun tutup pintu rapat-rapat. Hahahaha…

Anyway setelahnya, saya pun langsung googling. Ternyata alat indos*ver itu rata-rata cuma seharga Rp 350 ribu. Gak ada tuh yang jual sampe sejuta. Doeeenngggg…. Beda tipis dengan uang garansi yang dia sebut kan? Jadi ya dia memang nyuruh kita beli kan? Hahaha untung saya tidak tertipu. Wahai penipu, tobat woy!

The Most Useful Apps in My Life (So Far)

Pertama… Instagram. Gue gakbisa gak buka Instagram dalam sejam rasanya, hahahaha… Instagram ini benar-benar berguna dan multifungsi banget. Bukan cuma bisa upload koleksi foto-foto kece, tapi berkat Instagram (atau juga dikenal dengan singkatan IG), hidup gw jadi lebih mudah. Cari ide kegiatan anak, banyak. Cari resep juga bisa cepat dan banyak nemunya. Belanja online juga buat gw paling enak ya liat dari IG dibanding FB or grup2 BBM. Karena hasil pencarian pun berbentuk gambar semua ya jadi lebih enak rasanya. Berkat IG juga gw jadi bisa kenal banyak sesama ibu2 yang juga suka kasih aktivitas belajar sambil bermain untuk anaknya. Dari awalnya hanya sekedar kepo belaka, trus komen-komenan, akhirnya berlanjut ke chatting dan berujung pada ketemuan semacam playdate karena bawa anak2. Seru banget IG ini pokoknya.

Kedua… the next best thing app is Pinterest! Oh yeah I really really love this app. Bayangin dulu kalau mau save sebuah post/blog/tulisan/artikel di internet mesti gimana? Bookmark di laptop/komputer? Kalau uninstall browsernya atau ganti laptop ribet kan. Ilang deh bookmark nya. Sekarang mah save link bisa pake pinterest. Bisa kita kategorikan link2nya, trus juga bisa browsing topik dan pinterest pun menampilkan serangkaian artikel di timeline sesuai dengan blog yang kita ikuti atau kesamaan topik yang suka kita save dan ikuti. Dulu awal2 agak bingung menggunakan Pinterest ini, tapi sekarang udah jadi salah satu penyelamat hidup gue. 

Nah kalau yang paling gak guna menurut gw itu Path. I admit it that gw pernah addicted dengan Path. Lama-lama bosen, ditambah suka loading gambarnya lama. Lama-lama gw liat isi Path mostly postingan ampas semua. Mana gak bisa save foto juga kan di Path. Gak seperti Facebook yang setiap postingan foto langsung tersimpan dalam album. Jadilah gw sekarang udah ga pernah buka Path lagi. Passwordnya pun lupa, hihihi..

Kira2 bakal ada inovasi applikasi apa lagi ya berikutnya? We’ll see..

Curhat

Dulu itu gw bukan orang yang suka curhat. Ke keluarga, orang tua, or even sahabat. Iya, gw emang termasuk anak yang supel (ciehhh..), suka banget ngumpul dan nongkrong ama temen2, anak extrovert sejati, tapi gw hampir ga pernah cerita masalah personal ke seorangpun sahabat gw. Kenapa ya? Ya gw mikirnya ngapain lah mereka tau. Biar gw aja yang cukup tau. What’s the use? Apa manfaatnya?

Sampai suatu hari, di tingkat akhir kuliah, gw ikut sebuah training yang namanya Self Insight Awareness Training. Intinya training ini melatih kesadaran kita, awareness kita, terhadap kemampuan diri DAN terhadap lingkungan dan orang2 sekitar kita. Nah pas training, ada 2x sesi dimana kita mesti ‘curhat’. Pertama, gw mesti curhat ke 2 orang teman yang notabene nya baru banget gw kenal di training itu. Cerita tentang apa aja. Kalau kita rasa orang itu ceritanya bener2 jujur, kita bisa beri apresiasi dengan cara berdiri setelah orang itu selesai cerita. Dag dig dug dong gueee… Gw belom pernah curhat2 even ke sahabat, tapi malah disuruh cerita ke orang ‘asing’ yang baru banget kita kenal. Akhirnya, dengan yang awalny terpaksa dan hati dagdigdugder, gw ceritain 1 hal yang sudah beberapa tahun jadi beban rasanya di hati gw. Setelah selesai cerita, ternyata 2 orang teman baru gw yang dengerin cerita gw pada berdiri. Legaaa banget ternyata curhatan gw bisa menyentuh dan diapresiasi mereka, orang yang baru gw kenal. Gw pikir2 ternyata ada untungnya curhat ke orang ‘asing’. Setelah curhat rasanya lega banget dan ga mungkin dibahas lagi kan oleh mereka. 

Kali kedua, curhat ke sahabat sendiri. Gw gatau gimana ceritanya gw di sesi itu berpasangan dengan Karin, one of my bestfriends yang berhasil gw racuni juga untuk ikut training ini. Entah dipasangkan atau milih sendiri. Kayaknya milih sendiri deh.. and we chose each other. Gw juga lupa sih curhatnya tentang apa lagi. Tapi sejak training itu, gw jadi merasakan manfaat curhat. Hahahaha.. kemana aje gue selama ini? Jadi sejak saat itu gw jadi pribadi yang lebih terbuka. Lebih leluasa menceritakan masalah2 personal ke sahabat sendiri. And I’m so glad with it. Bahkan sejak saat itu, sejak hidup gw dipenuhi dengan drama, gw jadi ratu drama dan ratu curhat, hahahah.. Sampe2 gw kayaknya pernah nanya ke salah seorang sahabat.. “lo pasti bosen ya gw cerita soal ini2 mulu dan ga selesai2?”. Hahaha, maklum, masa2 super galau saat itu.

Anyway, I thank God sampai sekarang masih selalu ada teman2 dekat yang bisa diandalkan telinganya untuk dengerin gw. Yang gak bosen2 dengerin keluh kesah gw. Meskipun terpisah ribuan kilometer jaraknya. Thank you, my friends… you are my best therapy… 

Cerita Lahiran Kedua

Di kehamilan kedua kemarin, saya berdoa sangat, supaya tidak mengalami yang namanya induksi lagi. Dan berdoa semoga anak kedua beratnya tidak melebihi berat anak pertama (which is 3.5 kg… iya gede yaaah si Kaira pas lahir). Lalu, dari 2 doa itu, mana yaa yang terkabulkan? Well.. here the story goes..

Everything just went well… sampai di week 38 kira2 (karena HPHT juga kira2), pas di HPL yang berdasarkan USG, dokter bilang air ketuban mulai keruh dan ari2 mulai pengapuran grade III. He gave us ultimatum. Kalau seminggu lagi belum lahiran juga, saya harus lahiran. Bukan cesar, tetep bisa normal tapi pake induksi. Oh my… agak panik lah saya. Udah berdoa-doa gamau induksi lagi, sekarang jadi ada kemungkinan besar induksi. Karena kepala bayi belum masuk panggul juga. Beberapa hari kemudian kami cari 2nd opinion ke dokter kandungan lama saya (pas kehamilan pertama). Menurut dia juga memang mulai keruh ketubannya dan ari2 mulai pengapuran. Tapi somehow dokter ini lebih menenangkan dan solutif. Dia bilang seminggu lagi belum lahir, check lagi aja ke dia dan saya mesti tiap jam pantau gerakan bayi. Kalau perlu tiap 2 hari ke bidan buat cek denyut jantung. 

Mendekati tgl.13 juni, tanggal ultimatum dokter yang nyuruh saya induksi, belum ada tanda mules. Semalam sebelumnya ada flek dikit banget tapi gak ada mules tetep. Akhirnya saya pasraaaah aja deh. Senin disuruh induksi yaudah deh saya ikhlas induksi aja. Senin pagi ke dokter, siangnya masuk RS nya langsung. Dengan tegar saya nyatakan “saya siap untuk diinduksi”. Surprisingly pas diperiksa, saya sudah bukaan 2 ternyataa.. Hooo pantesan sejam sebelumnya di mall kerasa kram mulu (iyes, setelah periksa USG dan sejam sebelum masuk RS, saya makan siang di mall dulu, hahaha). Jadilah jam 3 sore langsung diberi pelunak rahim. Katanya kalau responnya bagus, bisa jadi saya tidak perlu induksi. Karena ketuban masih aman (tidak rembes seperti mau lahiran Kaira), saya disuruh jalan2 dan naik turun tangga. Jam 7 malam diberi lagi pelunak rahim. Saya gak akan cerita gimana rasanya diberi pelunak rahim lewat bawah lalu dibersihkan segala pake kain kassa, karena sumpah rasanya sangat gak enaaaaak banget. Sampai sekarang pun gamau mengingat2 gimana rasanya, oh my goodness.. Jadilah tengah malam2 saya jalan mondar-mandir, naik turun tangga, maju mundur cantik depan ruang bersalin. Bukaan pelan tapi pasti naik ke bukaan 4.. 5.. lalu 6. Gw pikir2 ya, perasaan di film, orang mau lahiran pada cukup berbaring cantik aja di kasur sambil kontraksi. Gak pernah tuh liat orang mau lahiran mondar-mandir di koridor pas di film, serial, or sinetron. Why? Kata suami, panjang2in durasi aja nanti, hahaha..

Anyway, jam 2 an saya diperiksa lagi dan saya pun tidur, sodara2.. Ternyata di tengah2 kontraksi bukaan 6 ke 7, saya bisa tidur. Ngantuk gila. Daripada nanti ngantuk pas disuruh ngejan kan lebih bahaya. Tidur sejam, kontraksi makin terasa, suami stand by di samping saya sedia tangan untuk saya remas2. Mbak bidan bilang saya mesti atur nafas biar bisa menahan rasa ingin mengejan. Nafas huh-hah-huh-hah seperti di TV itu juga lah (maklum saya gak ikut senam hamil, kayaknya juga gak ada di kota ini). Agak membantu memang nafas seperti itu ketika ingin mengejan tapi tetep aja su to the sah! Susaaaaahhh banget. 

Bukaan 9.. wow wow wow rasanya wowwwwww… Semenit rasa setahun. Mereka bilang tahan-tahan, saya rasanya ingin teriak “mana dokternyaaaaa????!!!” Sudah bukaan 9.5 (kata mereka deh ini), tetiba ketuban pecah sepecah-pecahnya, basahin salah seorang bidan sekujur badannya (we laughed at this moment after the chaos ended). Lalu saya panik lah.. “normal aja kah itu??”. Mereka bilang normal aja.. dan kontraksi berikutnya saya gak bisa menahan panik lagi. Saya teriak “sakiiiittt!!!!”. Thanks God dokternya tiba (in the nick of time, doc!). Lalu pas saya bilang sakit itu, dia nyuruh saya ngejan. Hampir aja merem (lagi seperti di proses kelahiran pertama), kalau gak langsung diingetin suami dan dokter. Dokter nyuruh saya untuk lihat ke arah perut. Perlu ngejan berapa kali ya saya akhirnya? Lupa dan gak ngitung. Maybe sekitar 4-5 kali ngejan finally saya bisa merasakan kepala bayinya keluar. Perasaan gw setelah lahiran adalah lega selega-leganya. Then they said… “bayinya 3,7 kilogram, bu…” Towewewewewwww… Gilaaaa gede amat bayi gueeee.. Pantesan aja susah masuk panggulnya, naaak.. Yaudah lah pasrah.. Mungkin jahitan kali ini lebih banyak daripada jahitan lahiran pertama dulu. I didn’t ask coz I never wanted to know about such thing! Gak peduli lagi lah, yang penting anak gw lahir sehat. Alhamdulillah…

Anyway lagi… dimanakah keberadaan si kakak Kaira selama proses berlangsung? Kaira gamau ditinggal di rumah embahnya, so dibawalah dia ke RS juga. Tidur di kamar saya selama saya di ruang bersalin, tapi mereka bilang jam 3 pagi Kaira terbangun. Dan karena tidak ada saya pas bangun, Kaira gak mau bobo lagi, alhasil dia ikut nungguin juga (kayaknya sesekali turun ke depan ruang bersalin). Saya pun mendengar suara dia di depan ruang bersalin setelah lahiran, “mana dedeknya?”, she said. Ini adikmu, Kaira… Darien Satya Anindita. Welcome to the world, my baby boy..

Well… perjuangan menjadi ibu 2 orang anak pun dimulai. Semoga saya makin diberi kesabaran yaaa.. hahahaa..

Juli yang Mellow

Mendadak mellow.. Sekarang jadi tau rasanya long distance marriage. Walau cuma berjarak 2 jam perjalanan, sabtu-minggu masih bisa ketemu, dan baru juga berjalan dari tanggal 1 juli kemarin, tapi yang namanya jauh dari pasangan terutama ketika masih ada bayi usia 2 minggu, it really feels sucks. Ditambah lagi nanti tgl.15 ditinggal full 2 minggu karena yang bersangkutan mesti training di jakarta. And I can’t go with him karena ada si baby yang sekarang masih berusia 2 minggu 5 hari ini. Untungnya kondisi ini akan cuma berlangsung selama 1 bulan. Then I wonder, gimana rasanya seperti beberapa teman saya yang lain yang lebih parah? Yang suaminya kerja di site pulang mungkin cuma sebulan sekali..??? Ditambah jika ada bayi baru lahir juga dan anak kecil yang frequently bertanya kapan papanya pulang pula. Pasti lebih mellow rasanya ya. Saya selalu berpikir, ngapain nikah kalau ujung2nya tinggalnya pisah? What’s the point of getting married then? Tapi ya memang mau gak mau beberapa dari kita mengalami hal itu. I used to love July, but not this time. I really wish July ends soon so my kids and I can be with him again…