Cerita Lahiran Kedua

Di kehamilan kedua kemarin, saya berdoa sangat, supaya tidak mengalami yang namanya induksi lagi. Dan berdoa semoga anak kedua beratnya tidak melebihi berat anak pertama (which is 3.5 kg… iya gede yaaah si Kaira pas lahir). Lalu, dari 2 doa itu, mana yaa yang terkabulkan? Well.. here the story goes..

Everything just went well… sampai di week 38 kira2 (karena HPHT juga kira2), pas di HPL yang berdasarkan USG, dokter bilang air ketuban mulai keruh dan ari2 mulai pengapuran grade III. He gave us ultimatum. Kalau seminggu lagi belum lahiran juga, saya harus lahiran. Bukan cesar, tetep bisa normal tapi pake induksi. Oh my… agak panik lah saya. Udah berdoa-doa gamau induksi lagi, sekarang jadi ada kemungkinan besar induksi. Karena kepala bayi belum masuk panggul juga. Beberapa hari kemudian kami cari 2nd opinion ke dokter kandungan lama saya (pas kehamilan pertama). Menurut dia juga memang mulai keruh ketubannya dan ari2 mulai pengapuran. Tapi somehow dokter ini lebih menenangkan dan solutif. Dia bilang seminggu lagi belum lahir, check lagi aja ke dia dan saya mesti tiap jam pantau gerakan bayi. Kalau perlu tiap 2 hari ke bidan buat cek denyut jantung. 

Mendekati tgl.13 juni, tanggal ultimatum dokter yang nyuruh saya induksi, belum ada tanda mules. Semalam sebelumnya ada flek dikit banget tapi gak ada mules tetep. Akhirnya saya pasraaaah aja deh. Senin disuruh induksi yaudah deh saya ikhlas induksi aja. Senin pagi ke dokter, siangnya masuk RS nya langsung. Dengan tegar saya nyatakan “saya siap untuk diinduksi”. Surprisingly pas diperiksa, saya sudah bukaan 2 ternyataa.. Hooo pantesan sejam sebelumnya di mall kerasa kram mulu (iyes, setelah periksa USG dan sejam sebelum masuk RS, saya makan siang di mall dulu, hahaha). Jadilah jam 3 sore langsung diberi pelunak rahim. Katanya kalau responnya bagus, bisa jadi saya tidak perlu induksi. Karena ketuban masih aman (tidak rembes seperti mau lahiran Kaira), saya disuruh jalan2 dan naik turun tangga. Jam 7 malam diberi lagi pelunak rahim. Saya gak akan cerita gimana rasanya diberi pelunak rahim lewat bawah lalu dibersihkan segala pake kain kassa, karena sumpah rasanya sangat gak enaaaaak banget. Sampai sekarang pun gamau mengingat2 gimana rasanya, oh my goodness.. Jadilah tengah malam2 saya jalan mondar-mandir, naik turun tangga, maju mundur cantik depan ruang bersalin. Bukaan pelan tapi pasti naik ke bukaan 4.. 5.. lalu 6. Gw pikir2 ya, perasaan di film, orang mau lahiran pada cukup berbaring cantik aja di kasur sambil kontraksi. Gak pernah tuh liat orang mau lahiran mondar-mandir di koridor pas di film, serial, or sinetron. Why? Kata suami, panjang2in durasi aja nanti, hahaha..

Anyway, jam 2 an saya diperiksa lagi dan saya pun tidur, sodara2.. Ternyata di tengah2 kontraksi bukaan 6 ke 7, saya bisa tidur. Ngantuk gila. Daripada nanti ngantuk pas disuruh ngejan kan lebih bahaya. Tidur sejam, kontraksi makin terasa, suami stand by di samping saya sedia tangan untuk saya remas2. Mbak bidan bilang saya mesti atur nafas biar bisa menahan rasa ingin mengejan. Nafas huh-hah-huh-hah seperti di TV itu juga lah (maklum saya gak ikut senam hamil, kayaknya juga gak ada di kota ini). Agak membantu memang nafas seperti itu ketika ingin mengejan tapi tetep aja su to the sah! Susaaaaahhh banget. 

Bukaan 9.. wow wow wow rasanya wowwwwww… Semenit rasa setahun. Mereka bilang tahan-tahan, saya rasanya ingin teriak “mana dokternyaaaaa????!!!” Sudah bukaan 9.5 (kata mereka deh ini), tetiba ketuban pecah sepecah-pecahnya, basahin salah seorang bidan sekujur badannya (we laughed at this moment after the chaos ended). Lalu saya panik lah.. “normal aja kah itu??”. Mereka bilang normal aja.. dan kontraksi berikutnya saya gak bisa menahan panik lagi. Saya teriak “sakiiiittt!!!!”. Thanks God dokternya tiba (in the nick of time, doc!). Lalu pas saya bilang sakit itu, dia nyuruh saya ngejan. Hampir aja merem (lagi seperti di proses kelahiran pertama), kalau gak langsung diingetin suami dan dokter. Dokter nyuruh saya untuk lihat ke arah perut. Perlu ngejan berapa kali ya saya akhirnya? Lupa dan gak ngitung. Maybe sekitar 4-5 kali ngejan finally saya bisa merasakan kepala bayinya keluar. Perasaan gw setelah lahiran adalah lega selega-leganya. Then they said… “bayinya 3,7 kilogram, bu…” Towewewewewwww… Gilaaaa gede amat bayi gueeee.. Pantesan aja susah masuk panggulnya, naaak.. Yaudah lah pasrah.. Mungkin jahitan kali ini lebih banyak daripada jahitan lahiran pertama dulu. I didn’t ask coz I never wanted to know about such thing! Gak peduli lagi lah, yang penting anak gw lahir sehat. Alhamdulillah…

Anyway lagi… dimanakah keberadaan si kakak Kaira selama proses berlangsung? Kaira gamau ditinggal di rumah embahnya, so dibawalah dia ke RS juga. Tidur di kamar saya selama saya di ruang bersalin, tapi mereka bilang jam 3 pagi Kaira terbangun. Dan karena tidak ada saya pas bangun, Kaira gak mau bobo lagi, alhasil dia ikut nungguin juga (kayaknya sesekali turun ke depan ruang bersalin). Saya pun mendengar suara dia di depan ruang bersalin setelah lahiran, “mana dedeknya?”, she said. Ini adikmu, Kaira… Darien Satya Anindita. Welcome to the world, my baby boy..

Well… perjuangan menjadi ibu 2 orang anak pun dimulai. Semoga saya makin diberi kesabaran yaaa.. hahahaa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s