Monthly Archives: October 2016

Belajar dari Office Boy dan Tukang Sayur

Ada seorang office boy kantor yang masih saya ingat dan kemungkinan besar akan selalu saya ingat, padahal cuma kenal selama 3 bulan. Dia mungkin menurut kalian hanya seorang office boy. Tapi sebenarnya buat saya semua pekerjaan itu penting. Tanpa office boy, siapa yang akan merawat kebersihan tempat kerja? Dan yang paling penting buat saya bukan melihat tingginya jabatan seseorang, saya paling suka liat orang yang kerjanya semangat dan ceria. Contohnya, si OB yang saya maksud ini. Namanya entah kenapa unik banget, namanya Emen. He might have been the most cheerful office boy I’ve ever seen. Tiada hari baginya tanpa senyuman. Dia bekerja dengan senyum. Bahkan sambil nyanyi2, saya liat dia sering ngepel sambil memasang earphone musik di telinganya. Dia sering ajak saya ngobrol, becanda, dan senyum. Saya sampai terharu liat dia. You know what it means? It means that he enjoys his job really much. It means that he is grateful everyday for his job. Terus saya jadi malu sendiri. Secara gaji, saya lebih besar, but I still complained a lot about my job. But then I looked at Emen, and realized that I should be more grateful and less complaining. I should enjoy more my job. Emen aja bisa enjoy dan menebar senyuman tulusnya dengan mengepel lantai, masa saya tidak bisa enjoy dan merengut ngerjain excel segambreng? Emen si Office Boy jadi reminder saya waktu itu untuk sering2 tersenyum dan menikmati pekerjaan kita, apapun bentuknya.

Kini, saya beralih status menjadi seorang stay at home mother (SAHM) alias ibu rumah tangga (IRT). I am very grateful for my current role. But I also wish for more. Saya ingin berpenghasilan juga walau jadi IRT. Saya ingin punya bisnis sendiri. Masih sering mengeluh sekarang kenapa saya belum punya skill yang pas buat berbisnis dan belum punya waktu yang lowong juga untuk menekuninya. Suami memang kerja, tapi selain ingin mandiri juga (in case kan terjadi sesuatu maka kita sebagai istri tetap bisa survive) juga karena ada rasa ingin aktualisasi diri. Ingin berkarya. Dan setiap melihat teman2 saya ada yang mulai bisnis sendiri meski sambil kerja, saya iri banget rasanya. Di tengah2 itu, saya merasa kembali diingatkan oleh Tuhan. Saya melihat tukang sayur langganan saya setiap hari tersenyum dengan ramah dan ceria setiap menghampiri saya dengan motornya. Meski baru kenal, dia bercanda terus bawaannya. Bahkan ngegaring, hahaha.. Saya mau keluar pun ia sapa. Again, saya merasa diingatkan untuk tetap senyum dengan keadaan saya. Tetap bersyukur masih diberi rejeki banyak walau saya ingin lebih. Kalau tukang sayur aja bisa enjoy jadi tukang sayur, maka saya harus bisa lebih enjoy dari dia menikmati peran saya. Saya harus bisa bersabar. Sambil mencari2 kesempatan bisnis dan belajar, saya mesti sabar karena memang saya sekarang masih rempong dengan mengurus 2 anak, satunya masih bayi 4 bulan pula. Saya yakin akan ada waktunya dimana saya bisa mulai bisnis dan saat itu saya bisa bereksperimen apapun. Sabar dan tetap ikhlas intinya ya… 

Belajar dari office boy dan tukang sayur.. Saya mendoakan yang terbaik buat mereka. Bagi saya, pekerjaan mereka sangat mulia, karena secara tidak mereka sadari, mereka mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan tersenyum di segala kesulitan dan keadaan. Hal yang sering sulit dilakukan dan dilupakan. Betul kan?

Advertisements

What do you love?

I love all kinds of chocolate..

I love the sound of the rain…

I love the cool air of mountain…

I love romance novels…

And mystery ones, as well…

I love crowd… but not too crowded…

I love the sky view from my window seat…

I love singing my favourite songs…

I love driving in my car…

And I always love being in the middle of my loved ones and make them laugh… 

Now you see, happiness doesn’t need to be expensive and complex.. It’s actually cheap and simple 🙂