Monthly Archives: January 2017

Why SAHM?

Kenapa gw memilih jadi stay-at-home mother?

Ok, yang pertama, alasan awal gw resign dan memilih urus anak sendiri adalah karena ketidaknyamanan suasana kantor. Gak win-win solution rasanya kalau gw ga enjoy kerja dan ga enjoy mikirin anak diurus orang lain. So, mending gw pilih keluar dari kerjaan yang super ga nyaman itu.

Kedua, maybe because I am a bit of a perfectionist person. Ketika gw dapat ilmu2 parenting, gw merasa harus gw sendiri nih yang nerapin. Gw merasa orang lain ga akan bisa sesuai ekspektasi gw dalam asuh anak gw. Terutama kakek-neneknya ya, tau sendiri kan betapa soft nya mereka sama cucu2nya. Kalau terpaksa, gw lebih baik hire orang lain yang masih terbilang muda, yang masih bisa gw kasih tau, ajarin, educate sesuai yang gw mau. Kan mereka dibayar untuk itu toh? Tapi tetap rasanya gw ga percaya orang lain bisa sesuai ekspektasi. Kalau orang lain mungkin bisa ya gimana ajarin pengasuh buat ikut didik si anak. Kalau bisa ya it’s okay, karena jadi SAHM atau Working Mother itu sama2 bagus kok yang penting happy. Karena saya ga happy jadi working mother di kantor lama saya ya, I chose other option. Pun udah dapat pengasuh yang oke, entah gimana gw liat tetep banyak yang bertahan lama. Tetiba pulang kampung lah biasanya jadi mesti pusing lagi cari pengasuh baru, lalu adaptasi lagi, lalu ajarin lagi. Gitu terus berulang2. Kasus yang gw liat banyak banget terjadi di teman2 gw. Jadi, kalau gw sih lebih pusing punya pengasuh daripada kerja jauh dari anak. Buat gw sih ya begini, kan tiap orang beda2 toh..

Ketiga, karena gw jadi mikir untuk melakukan bisnis atau kerjaan freelance sendiri dari rumah. Kata siapa SAHM itu mesti ga bisa menghasilkan duit? Banyak teman wanita gw yang berbisnis sambil urus anak dari rumah. Trus kalau bosen di rumah ya keluar aja jalan sama anak. Or playdate-an, ajak teman lain yang juga punya anak untuk main2 bersama di mall or anywhere possible. This is what I often do. Saya ikut komunitas yang kegiatannya playdate2 bertemakan aktivitas bermain sambil belajar. Memang seharian ngurusin anak, ngobrol sama balita dan seharian dicerewetin sama anak tuh bisa bikin otak konslet memang šŸ˜. Solusinya, ya kalau bisa kesepakatan ama suami untuk me time sejenak barang 2 jam aja itu udah refreshing banget. Kalau gabisa, playdate-an sama teman2 senasib itu juga membantu sangat. Jadi kata siapa SAHM itu melulu di dapur dan bau terasi? Hahaha, gw honestly jarang kali ke dapur.

Menurut gw, tugas jadi ibu itu udah berat. Pekerjaan tersulit namun dibayar termahal, karena dibayarnya dengan cinta. So, prioritasnya adalah bukan cari uang. Tapi cari kebahagiaannya dulu. Kalau memang happy nya kerja ya silahkan jadi working mother. Kalau happy nya ga kerja kantoran ya gausah pusing, jadi SAHM aja rasanya memiliki kepuasan tersendiri, biar suami yang bertugas utama cari uangnya. Kalau memang jiwanya SAHM, tugas utama kita ya keluarga kita, masalah uang sebaiknya tidak jadi fokus utama si ibu jika ada ayah yang bisa menopang keluarga. Kalau saya yakin, jika sekarang belum bisa aktualisasi diri dalam menghasilkan uang, akan ada saatnya nanti saya bisa ikut bekerja. Memang jika masih ada bayi dan anak balita masih sulit bagi waktu. Saya gamau terlalu pusing karena nanti malah anak terbengkalai. Kita bersabar aja, jika sudah waktunya dan ada kesempatan pasti bisa. Bener kan? hihi..

About GratitudeĀ 

Memiliki anak membuat saya bukan hanya belajar sabar, tapi juga belajar bersyukur. Dua pelajaran yang tidak didapat dari sekolah. Dalam bersabar aja masih susah banget ya, jadi bener2 mesti belajar, berlatih, dan ingat2 terus kenapa mesti sabar. Bersyukur juga mesti begitu. Mesti diingat2 tiap hari dan dirasakan. Supaya apa? Supaya bisa bahagia. Kalau gak bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita bakal selalu merasa orang lain lebih bahagia, lebih segalanya dari kita. Apa yang dimiliki oleh orang lain selalu menjadi beban buat kita. Kita selalu merasa kurang dan kurang. Tidak pernah cukup. Apa enak hidup seperti itu? Padahal juga apa yang kita miliki di dunia ini hanya sementara.

Nah salah satu hal yang paling saya syukuri yang terjadi dalam hidup saya adalah bersyukur Tuhan memberi saya 2 anak, perempuan & laki2, yang sehat2 semua. Bersyukur  kami, sebagai orang tua, diberi rezeki yang cukup untuk menghidupi mereka dan mendidik mereka. Bersyukur diberi kepercayaan dan amanah oleh Tuhan dalam bentuk 2 malaikat kecil kami ini. Meski kami tidak hidup mewah, liburan aja jarang, hahaha, tapi tentu saya masih sangat bersyukur dengan keadaan kami. Saya tidak boleh mengeluh. Bagaimana mungkin saya mengeluh kalau ada teman saya yang berjuang tiap hari demi melaksanakan pengobatan anaknya yang mengidap penyakit yang memerlukan terapi seumur hidup? Bagaimana mungkin saya bisa iri dengan teman2 yang bisa liburan ke Eropa jika ada teman saya yang rela menjual motor, hp, dan barang2 lainnya untuk mendapatkan uang demi kelancaran pengobatan anaknya? Teman saya itu pun masih bisa bersyukur dengan kondisi anaknya, apalagi saya. 

Hal2 seperti ini yang saya harapkan dapat dipahami oleh anak2 saya sedini mungkin. Kemampuan untuk bersabar, besyukur, dan berempati. Karena, percaya atau tidak, ada satu teman saya yang hingga di usianya yang sama dengan saya masih suka iri dengan orang lain. Selalu membanding2kan dan tidak mau merasa kalah hingga rela bohong demi menunjukkan kalau ia lebih hebat. Percayalah, manusia seperti itu ada, dan dia orang dewasa pula, bukan lagi anak2. Bikin saya geleng2 banget kalau inget teman saya yang satu itu. Jadi, penting sekali kita mengajarkan nilai2 seperti itu kepada anak kita. Dan tentunya untuk bisa seperti itu, harus dimulai dari diri kita. Karena anak2 pasti mencontoh orang tua nya, bukan begitu? They said that kids don’t follow your advise, they follow your example. Banyak banget ya yang harus diajarkan ke anak. Bukan cuma diajarkan tapi dilakukan, mesti setiap hari pula biar jadi good habits. Pe er jadi orang tua banyak banget yah.. 

Two Thousand and Seventeen

I’m not sure how I’m gonna face this year. Since in this year, in about 7 months more, I will be officially 30. Thirty! Ten years ago, I freaked out that I was no longer teenager and now suddenly it’s 10 years later??? How did time fly so fast? I am a mother of two, yet I still can’t accept the fact that I’m gonna be thirty, hahaha.. And my mind has been racing that 10 years more then I’ll be 40 šŸ˜£.. 

Okay, so now I have to stop worrying about my age. Getting old is something people must accept, whether they want to or not (#talktomyself). Now I must really do useful things and not wasting more times. If I want to live long, then I must live healthy, right? So, starting this year, my family and I will live healthier. Is that my 2017 resolution? Absolutely. In this year, I’ll do something productive too. No matter how small I’ll earn, I have to be a productive woman and mother. I promise I’ll also be a better mother for my children. I’ll educate them as best as I could. And pray to God, that this year will be much better than last year for me.