All posts by Hanifah Rachman

About Hanifah Rachman

Simple. Optimistic. Cheerful. Perfectionist. Playful. Childish. Shy. Fighter. Smart. Caring. Trustable. Friendly. Forgetful. Moody. Casual.

When People Asked Me..

Banyak yang heran dan bertanya pada saya. 

Kok bisa sih urus 2 anak sendirian di rumah ga pake pembantu?

Kok lo berani sih ditinggal suami keluar kota bertiga doang di rumah?

Kok bisa sih rajin siapin aktivitas anak tiap hari?

Sesungguhnya saya bukanlah ibu hebat. Saya jauh dari sempurna. Masih banyak minusnya. Cuma memang harus ada yang dikorbankan. 

Berkorban banyak sisi rumah yang berantakan. Berkorban baju gak disetrika 😂.  Berkorban me-time berkurang drastis. Berkorban bangun lebih pagi untuk mulai masak, supaya bisa lebih santai ketika anak-anak bangun. Berkorban tidur sedikit lebih malam untuk menyiapkan aktivitas belajar. Saya pun orangnya ga ambil susah. Jika suami keluar kota, saya suka gak masak (kecuali untuk bayi yah), karena males masak cuma buat makan sendiri dan anak balita. Bakal capek juga kan 2 harian (bahkan bisa 3 hari 2 malam) urus anak sendirian, jadi sedikit melonggarkan diri gapapa lah, beli makan di luar aja. Save tenaga 😂. Saya bukannya anti pembantu ya, cuma prinsip saya selama ini adalah selama bisa melakukan sendiri ya lebih baik sendiri. Jika suatu saat saya gak sanggup ya bisa jadi saya hire tenaga pembantu. 

Apakah saya selalu masak dari Subuh? Gak juga. Sejak 2 anak, saya lebih susah melek pagi tiap hari. Tapi kalau lagi kesiangan ya saya masak simple-simple aja paling. Saya kan bukan orang yang passionate di dapur ya, jadi seminim mungkin habiskan waktu di dapur lebih baik 😂. Gitu aja. Saya orangny gak ribet. Begitu punya anak, kita mesti berdamai dengan ketidaksempurnaan. Gak mungkin banget bisa happy urus 2 anak plus rumah bersih semua tapi masih punya kewarasan. Gak mungkin kecuali Anda adalah tipe Monica Geller mungkin? Hahaha. 

Capek? Ya iyalah capek. Tapi tiap merasa capek, begini mantra saya: “Mereka sebentar lagi juga gede. They’re not little forever. Just enjoy the moment”. Inhale exhale. Inner peace.. hahahaha. Maybe in the future I’m gonna miss the messy and noisy house? So just enjoy it.

Advertisements

Slogan

Kita semua pasti memiliki slogan-slogan tersendiri ya. Yang bikin kita semangat. Yang bikin kita survive. Yang bikin kita bisa menjalani hidup ini dengan waras. Inilah beberapa slogan atau prinsip-prinsip hidup saya so far.

1. Face Your Fear

Seorang teman pernah berkata pada saya, bahwa hanya sekitar 30% saja dari apa yang kita takutkan menjadi kenyataan. Dia bilang itu ke saya ketika kami akan menghadapi sidang S1 kala itu. Saya yang berkemampuan rata-rata dan tidak memiliki banyak kepercayaan diri, waktu itu sangat takut rasanya menghadapi sidang. Rasanya horror dan sudah membayangkan worst possible scenario. Ketika teman yang sudah lebih dulu sidang mengatakan itu, saya menjadi lumayan lebih tenang. Percayalah, ucapan positif sekecil apapun rasanya bisa membangkitkan semangat berkali2 lipat 😁.  Trus saya waktu itu juga mengikuti sebuah self insight awareness training, dan salah satu mentor mengatakan hal it berulang-ulang. Face your fear! Ketakutan jika tidak dihadapi akan selalu ada. Maka hadapilah, apalagi biasanya tidak semua ketakutan kita terbukti, karena itu biasanya hanya ketakutan semata. Setelah saya berhasil menyelesaikannya TA dan sidang, saya pun mendapat nilai triple A, saya merasa sudah berhasil menghadapi salah 1 ketakutan saya. Memang benar kok, tidak semua ketakutan terbukti. So, just face your fear.

2. Finish Off What You Started

Seperti membaca buku. Sebagai pecinta buku, begitu mulai membaca, rasanya harus menyelesaikannya sampai akhir, bukan? Pantang untuk berhenti di tengah-tengah. Nah, suatu hari saya sedang outbound training, yang mengharuskan saya untuk menuruni air terjun dengan hanya menggunakan seutas tali dan pengaman. Saya mengumpulkan nyali, karena please I had never done things this crazy before then. Ketika saya mulai turun, saya mungkin terpeleset lalu terhempas keras air terjun dan terlempar ke tengah air terjun. Saya teriak panik bukan main ketika muka saya terkena jatuhan air terjun yang kencang, rasanya seperti tenggelam. Hampir saya melambaikan tangan ke atas minta ditarik. Ingin menyerah. Tapi untungnya saya berpikir, “hey, I must finish this. I started it, so I must finish it“. After I took sometimes, pelan-pelan saya kembali ke posisi seharusnya dan pelan-pelan turun (sambil berdoa kencang). Entah gimana rasanya, campur aduk, antara adrenalin rush, takut, berani, mau nangis, semua jadi satu. Tapi, akhirnya saya berhasil sampai ke bawah. Ya ampuuunn, rasanya legaaaaa tak terkira. Rasanya pencapaian luar biasa sekali bisa menyelesaikannya sebuah tantangan yang luar biasa. 

3. Don’t Always Depend on Others

Maksud lainnya adalah lakukan sendiri apa yang bisa kita lakukan sendiri. Saya gak suka ngerepotin orang lain. Sebisa mungkin lakukan semua sendiri. Mungkin sejak saya memutuskan untuk keluar sari rumah orang tua sejak kuliah, saya jadi lebih mandiri. Lepas kuliah, saya langsung diterima di sebuah perusahaan nasional yang mengharuskan saya tinggal di mess selama training dan ditempatkan di luar pulau. Otomatis, saya terbiasa apa-apa sendiri. Dan sekarang, saya menjalani peran ibu rumah tangga, mengurus suami dan 2 anak sendiri, tanpa bantuan asisten. Nilai itu juga yang saya ingin tanamkan kepada anak-anak saya. Kemandirian. 

4. They Can Do, I Can Too!

Bukan maksudnya kompetitif ini ya. Percayalah, saya bukan orang yang kompetitif banget. Ya, mungkin SD – SMP 😂. Tapi sejak SMA biasa aja. Gak mesti harus yang terbaik, no. Maksud saya adalah dalam hal mencoba. Mencoba sesuatu yang baru terutama. Saya kalau liat orang lain mencoba sesuatu dan bisa, saya sering berpikir “maka saya juga bisa (mencobanya)!” Kalau mereka bisa berhasil, masa saya gak mau mencoba nya? Dengan kata lain, be optimistic! Kecuali pernah 1x saya memilih untuk tidak mencoba apa yang mostly teman-teman saya lakukan. Yaitu ketika mau arung jeram, trus diajak loncat ke sungai dari atas jembatan. I just feel like “NO FREAKING WAY!” Masalahnya saya gak bisa renang, takut banget tenggelam dan hanyut. Teman saya yang gak bisa renang juga loncat sih, karena di bawah sudah ada yang jaga juga. Tapi beneran deh, untuk itu saya nyerah angkat tangan. Nyali langsung minus, LOL.. Lagian ada 2 teman lain yang juga memilih lewat jalan lain, on foot, so I chose that safer way for me, hahaha. Tapi, mostly saya optimis kok. Buktinya saya berani melakukan rapling dan loncat dari atas pohon (karena ada safety harness tentunya hahaha). 

5. Everything Happens for A Reason

Ini mantra yang selalu keluar setiap sedang sedih. Atau dilanda musibah. Saya adalah termasuk yang percaya hal itu. Saya percaya Tuhan tidak akan membiarkan kita sedih selamanya. Jika kita kehilangan sesuatu, Tuhan akan menggantikan dengan yang lebih baik. Asal kita terus berusaha. Dan bersyukur. God is good. 

6. Be a Useful Person

Setiap saya posting kegiatan belajar sambil bermain bersama anak, bukan untuk pamer. Pertama untuk dokumentasi, yang sangat berguna ketika saya trace back untuk mencari ide main bersama anak kedua saya. Kedua, untuk sharing kepada para ibu lain. Banyak yang sudah DM saya, bilang terima kasih sudah share bermacam kegiatan yang mereka ikuti juga. Wah saya senang sekali. Pertama karena postingan saya bermanfaat, kedua karena saya jadi nambah kenalan baru. Saya juga ingin menularkan semangat saya kepada teman-teman saya yang lain. Ayo, didik anak kita semaksimal mungkin, karena masa mereka bersama kita orang tuanya itu pendek. Saya senang tiap ada teman yang juga termotivasi untuk mengajarkan anaknya. Saya lebih bahagia jadi orang yang bermanfaat. Kalaupun saya jadi orang kaya, saya ingin kekayaan saya pun untuk bermanfaat juga bagi orang banyak. Itulah salah 1 bentuk kedamaian saya. 

Yah begitulah, beberapa prinsip utama hidup saya. Selama kita masih hidup, rintangan akan selalu ada. Intinya percaya sama Tuhan dan percaya sama diri sendiri, bahwa kita akan jatuh tapi kita akan bangun lagi.

Socmed

Orang-orang menggunakan socmed dengan beragam alasan. Kalau saya menggunakan socmed seperti Instagram untuk dokumentasi kegiatan belajar sambil bermain saya bersama anak. Ini buat saya berguna banget karena saya bisa telusuri balik menggunakan hashtag terutama ketika saya memiliki anak kedua. Selain itu, dari Instagram saya mendapat banyak sekali teman baru, baik yang akhirnya bertemu walaupun belum pernah tatap muka, tapi mereka sudah sering menawarkan kebaikan pada say. Contohnya, ada yg tiba2 menawarkan untuk mendaftarkan nama saya untuk PO sebuah buku yang memang saya incar di sebuah acara di Jakarta, padahal baru kali itu dia chat saya. Selain itu, saya juga mendapat banyak ide main dari mereka via Instagram. Olshop juga menurut saya efektif sekali menggunakan Instagram, walau kadang annoying kalau isinya kebanyakan promote Olshop lain 😅 (biasanya langsung saya unfollow). Saya pun sekarang mencoba berbisnis jualan buku impor anak menggunakan Instagram. Oiya, berkat Instagram juga saya mendapat banyak hadiah (biasanya mainan anak) gratis. Lewat giveaway atau challenge biasanya. Lumayan banget hemat uang buat mainan anak. You know betapa mainan anak itu money consuming banget ya, gak ada habisnyaaa..

Nah terus ada juga dong yang menggunakan Instagram untuk show off semata. Yang bikin saya heran & geleng2 kepala. Contoh, bikin Instastory segambreng tiap check in hotel berbintang. Nyetir sambil Instastory view dari kursi mengemudinya (what the hell for??). Setiap foto wajib menampilkan brand produk bagus or nama hotel or mobilnya. Kita bisa bedakan lah ya, mana yang pamer mana yang enggak, liat dari esensi postingan nya ini, bermanfaat apa enggak sih. Posting 3 foto isinya gambar mobil mewah baru dan cerita baru beli, esensinya apa? Kecuali dia kasih tips memilih mobil setidaknya? Ini enggak. Besoknya dia posting baru foto sim A barunya. Errr.. biasa aja kali ah. Tapi untung saya bukan orang yang kompetitif alias cuek sama orang pamer. I mean, it’s still annoying of course tapi gak bikin saya sampe nyinyir juga via socmed. Kalau gitu ya sama aja dong gw dan dia. Everyone has a right to post anything they like in their accounts, so I don’t have right to protest. I can unfollow though hahaha. But I didn’t, karena saya gak terpengaruh dan gak iri sama sekali. Saya cuma iri sama orang yang smart dan berwawasan lebih luas dari saya. Postingan teman2 yang pamer cuma bikin saya menghela nafas dan geleng-geleng sambil rolling eyes hahaha. 

Saya sempat berpikir bahwa socmed itu cenderung memperlihatkan sisi aslinya seseorang. Seseorang yang kita lihat aslinya biasa saja, tapi di socmed bisa terlihat berbeda. Contohnya ada teman saya, laki-laki, kita sebut saja si A, kalau liat aslinya anaknya asyik, gokil, suka becanda, dan terlihat cool. Nyatanya, saya lihat postingan twitternya, jadi mellow abis. He wrote about his ex that he couldn’t forget in a bit of dramatic way. Trus teman saya yang lain bilang si A ini di path sombong banget tukang show off sampe dia KZL, padahal kalau kita lihat aslinya dia bukan yang dikit2 pamer, seperti “eh lihat nih CRV gw”, or “gw besok mau beli iPhone baru ah”. No, kalau aslinya biasa aja, terlihat humble wong kami pernah ngangkot bareng dan dia juga pas hangout di Jakarta maik motor. Tapi di socmed jadi agak seperti itu, contohnya lagi cuci Mobil CRV nya di-post. Jadi, ada apa dengan socmed? Bisa bikin seseorang yang sebenarnya bukan tukang pamer di kehidupan nyata tapi di kehidupan Maya jadi show off-er. Apa socmed menjadi wadah untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan di dunia nyata? Kan gak etis ya pamer by verbal di depan orang, tapi begitu berhadapan sama hape jadi bisa menuangkan yang sebenarnya ingin dipamerkan? 

Di sisi lain, kita gak bisa juga percaya 100% sama socmed. Socmed itu cuma nampilin sekian persen dari apa yang terjadi di kehidupan nyata. Di socmed orang bisa keliatan hidup di fairy tale, a hundred percent happy. Yang tentunya itu hanya ilusi. We all have our own problem and obstacles. Gak ada yang smooth seratus persen. Orang hura-hura bisa jadi untuk menutupi kegundahannya. Orang pamer2 bisa jadi karena dia insecure terhadap sesuatu. Saya sering posting activity sama anak saya setiap hari. Orang bilang saya rajin banget padahal urus 2 anak tanpa ART. Well, saya gak pernah aja posting sisi lain rumah saya yang berantakan, hahaha. Jadi, orang-orang pamer di socmed itu akan selalu ada, gak usah pusingin motifnya apa, but we shall never ever take them too seriously. What they display may hide something behind. Pinter-pinternya kita aja untuk mengikuti mana yang bermanfaat dan mana yang enggak. Jadi lah diri kita apa adanya, posting hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. 

House with Kids

I don’t know why my house seems to be messy all the time. I kept tidying up but only last for mmm.. 15 minutes? Hahahaha I feel like I want to give up on tidying my house. I have two little kids, one of them is still a baby, so cleaning house is definitely like shoveling snow while still snowing 🤣. At least I have a vacuum cleaner, thanks to my husband who seemed to have a visionary thought to buy it even if he hadn’t gotten married that time. My life is easier when vacuum cleaner is around. At least. But still, now I wake up and my bedroom is full of toys everywhere. And kids’ books and used diaper. Fiuh. I felt scratch in my hand to tidy up all these mess, but my first priority in the morning is cooking. No, I don’t have a maid. So I need to do first thing first. Plus, I need to do laundry. Great, my task seems have no end. So, yeah, let the house be messy. I’ll clean up later when I can. The kids are gonna be grown ups soon, they are gonna leave the house someday. I probably will miss the mess 😂. So just enjoy this motherhood phase that won’t last forever. 

To My Talented Girl

K, jika kamu suka menggambar,

Menggambarlah

Gunakan imajinasimu tanpa batas.

Silahkan tuang apapun yang ada dalam benakmu ke atas kertas lewat coretanmu.

Gambar-gambarmu selalu memiliki makna, mama tidak pernah berpikir sebaliknya.

Setiap kamu meminta kertas untuk menggambar, mama berikan.

Itu adalah bentuk dukungan mama terhadap bakat & minatmu.

Menggambarlah. Berimajinasilah. 

To Jump or Not To Jump

Have you ever been in a phase where you questioned yourself about the reason of your existence in this world? 

“Why do I live?”

“What do I live for?”

“What if I decide to just die tomorrow?”

Then, you’d think about a slight possibility of doing suicide. You’d wonder “what if I kill myself?” 

You know, I’ve been there. I’ve been in that phase. Maybe 10 years ago, when I was in my first year of college. Oh no, I wasn’t depressed. I didn’t think so. I wasn’t depressed that I felt sad or lost my appetite or half alive. No, I didn’t feel all of that. I just wondered all of those questions, and those questions stuck in my head for days. I didn’t feel I wanna kill myself at all, I just wondered “what if?”, “What if I decide not to live anymore?” but without feeling, not even a bit, to really want to do it. I just imagined it. Then, suddenly, when I was imagining that I killed myself, I imagined my family. My parents especially. If I died that way, I could imagine that my parents, who had worked so hard to raise me and fulfilled my education need until I could enter this number one institute in my country, would feel terribly sad. If I killed myself, my parents would be sad, not only because of losing her child, but they might also blame themselves so I committed suicide. I knew they’d feel so. And I knew that they didn’t deserve it. I couldn’t make them sad that way, after all they had given and done to me. They didn’t deserve it. They deserve to be happy. 

Therefore, I knew the reason for me to live then. I’m gonna live to make them happy. I have to pay what they had done to me. That must be why I live for, right? After that, I felt relieved. I didn’t know what made me ever felt that way before. Maybe because I once disappointed my parents for my decision before. That’s why I felt sad for months. Although, I knew I shouldn’t feel guilty because I have a right to make a decision for myself, for what I feel is right for me. My parents should be more understanding, right? But my mother cried that time, then I felt guilty for a long time. So I thought, I had to prove them. I had to prove them that I made the right decision, that there was nothing my parents should worry about. I promised myself that I’m gonna make them happy in the future.

Right now….

I still think that my parents think I’m a failure. I may not be able to make my parents, especially my mother, happy now. I’m sorry, mother. I can only pray to God, that you’d somehow understand when the truth comes later. I hope you can forgive me by that time, if not in this time. I may not make you happy and smile now but I really pray to God that God always protects you and gives you health. Now I have another reason to live. My family. My husband and my kids. And God.

Happy Five

8.7.2012 – 8.7.2017

Five years of marriage.

And God has blessed us one adorable daughter and one cheerful son.

These five years have been the happiest years of my life.

And I am grateful everyday to God, for sending you to me, my husband.

Happy 5th anniversary 😊😘

About My Firstborn (4yo)

If you meet my first daughter, you’ll see that she is like a chatterbox. She almost couldn’t stop talking. She asked a million questions everyday. Just like Peppa Pig haha. Tapi di sisi lain kecerewetannya itu, K memiliki banyak cerita dan imajinasi yang ia tuangkan ke dalam gambar-gambarnya. Yes, she likes to draw very much. She has been drawing since 2 years old. Setiap hari selalu ada cerita berbeda di gambarnya. Hari ini dia menggambar Shaun the sheep, besoknya dia menggambar Putri duyung. Besoknya lagi, inspirasinya akan berbeda lagi. Saya selalu sediakan kertas untuknya menggambar biar ia terus mengasah skillnya sendiri. Dan tak jarang pun ia terus mengoceh tiada henti sambil menggambar.

Saya memposting hasil2 gambarnya bukan untuk show off, tapi untuk dokumentasi, karena saya malas menyimpan banyak kertas hahaha. Dan banyak orang yang memberi komentar betapa berbakatnya anak saya yang masih 4 tahun itu dalam menggambar. Komentar mereka menjadi konfirmasi buat saya bahwa berarti menggambar termasuk salah 1 bakat dan minat K yang harus diasah terus selagi is masih menggemarinya, yang harus saya support terus secara positif.

Kalau udah tahu anaknya suka gambar, kenapa ga dimasukin les gambar aja bu? Awalnya sih semangatnya begitu, tapi ada kenalan yang anaknya juga jago gambar bilang dia kuatir kalau ikut les gambar, gaya gambar anaknya akan terlalu diarahkan. Hmm bener juga ya, jadi gak mau buru2 juga masukin anak ke Les gambar, tunggu agak besaran aja ya. 
Tugas saya sekarang untuk terus memfasilitasinya pada kesenangannya menggambar ini. Sesungguhnya gambar saya juga lumayan kok, cukup bagus, kalau ada contohnya, LOL. Andai memang bakatnya terus berkembang hingga besar wah saya senang sekali, karena banyak sekali profesi kreatif yang menggunakan bakat menggambar ini. Apalagi kalau bakatnya sudah terlihat dari usia dini, jadi bisa fokus diasahnya. Kata Ayah Edy sih begitu. Tapi tidak menutup kemungkinan K memiliki sejumlah bakat yang lain yang belum saya gali. Jadi, tetap harus dikenalkan dengan beragam jenis aktivitas. Hingga saat ini sih, K cukup tertarik dengan kegiatan sewing. Sejak 3.5 tahun saya sudah mengajarkan K menjahit menggunakan jarum beneran. And I see her pretty enjoy in doing it. Bahkan dia udah bisa tusuk feston, hihi. 

K juga sudah terlihat senang bersosialisasi walau masih egosentris, alias senangnya menjadi yang diperhatikan. Tak jarang mencari perhatian dengan memanfaatkan adiknya yang masih bayi. Tapi dia termasuk anak yang mudah berteman lah, hingga mamanya pusing tiap dia minta main keluar di saat mamanya sedang tidak bisa menemani. Yang bikin saya agak surprise beberapa bulan lalu di sebuah acara playdate, K berani maju sendiri saat pembagian sertifikat tanpa disuruh mama papanya, dan dengan percaya dirinya berdiri di baris terdepan untuk difoto bersama anak2 lain seumurannya. Memang masih ada kekurangan dari skill sosialisasinya tentu saja, tapi saya lega K bukan lagi anak yang agresif seperti dia masih 2 tahun, yang kadang mendorong atau memukul temannya karena sifat dominannya. I’m sure you’ll find out yourself the best way for you to be friends with as many people as you want, K. I’m gonna trust your instincts, walau sambil menahan pusing dan emosi hahaha. Masih banyaaak PR saya untuk terus mengexplore dan mengexplore dan observasi dan menilai bakat alaminya. Semua ini mama lakukan agar kelak kamu survive di kehidupan ini, nak. Dan supaya kamu gak salah jurusan seperti mama, LOL. 

Nearly Anniversary

Within 2 weeks, my marriage will step into 5 years old. For five years, I have been spending time with a same guy, which is my husband. And we’ve been blessed by two kids, a girl and a boy. Thinking back, I once wonder, what if I hadn’t gotten married 5 years ago? Or what if my husband and I decided to postpone having a child? If I hadn’t gotten married, I’m definitely still working. And I would be in Jakarta, or in any other city than Samarinda since I don’t like the city at all (I will talk about this in another post). If I hadn’t gotten married, I probably would travel a lot. I’d probably watch Coldplay concert last month. I’d probably still hang out with friends till midnight almost everyday, hahaha. But, I’ve been in that phase, and I was still lonely, even though I was surrounded by many fun friends. Well, I admit that there’s one thing I haven’t felt, which is the traveling part, so I couldn’t compare yet. But can anyone guarantee that I would be happier if my condition is different? If I am still free and single and can go anywhere I like? 

The answer is here..

Everytime I look at my baby’s face, I wish I could freeze time. I wish I could hug and kiss my baby as much as possible. I wish he didn’t grow up so soon. But I also can’t wait to see them growing and I don’t want to miss it, even just a bit. And everytime I feel my husband’s hand in mine and his chest in my cheek, I wish we could be like that forever. 

So, you know the answer. I’m truly happy with my marriage. My husband is not perfect but neither am I. My husband is not perfect but he completes me. He may not say “I love you” everyday, but I know he does. I know he is a very loyal husband and there’s no reason for me not to trust him and not think twice when he proposed a marriage. And you know what, we never fight for these years. Twice or three times in the early years of our marriage, there were “crash” moments between us, but it never stayed long, never made us yell or say bad words to each other. When it happened, when I or both of us got mad, I just cried and my husband made a silent treatment to me. But I’m glad in the last 3 years, we never get mad anymore. 

And as for the kids, I can’t imagine my life without them. When my kids were born, I found a new passion. To be their first teacher. To be their first best friend forever. So I don’t regret at all to have them as immediately as possible after we married. I don’t regret at all to choose these roles, a housewife and a mother. I am looking forward to many of our anniversaries in the future. 

Disliking Monday

It’s 4 am in the morning. It is raining hard. And have been blackout for 2 hours already. I am hungry but too chickened out to get out in the dark, haha.. Normally I would start the day right now since I think it’s just useless to try to sleep again (especially when your tummy’s grumbling). So here I am, waiting for the lights on while hoping to delay the Monday routine as long as possible. Why? Because other than it’s obviously Monday, but also because my husband plans to go out of town until tomorrow. 

Lately, I feel tired doing all the houseworks while handling my 4 year old toddler and a baby who is currently learning to walk from 8 to 6 by my self. And to face it for two days in a row without my husband? Brace myself. Yeah, I don’t know why I don’t enjoy my routine as usual. Usually I am okay with just me and my kid at home, even enjoyed it. But right now I’ve been stressed out, mostly by my baby’s food. Everyday I wake up by thinking “what should I make today for my baby wants to eat?” I wish he could just tell me what he wants and I will make it. Hahahaha.. But he is a baby of course. I know my baby and I prefer Baby-Led Weaning (where you let your baby eat by himself mostly) method but it’s still a very hard work, you know. It’s not easy, but they say it’s worth it. And the other problem is I am not so creative in cooking, so cooking for me is not a fun thing. Cooking is just a responsibility for me. I still much enjoy the role as a teacher to my children rather than a chef, really. This as fact, I can enjoy hours spending to make something for my children to learn but I hate spending hours just in a kitchen. Cooking would be less stressful if I don’t do it while hurrying since I can’t let my baby without me for a long time. So, I just have to be patient, but it’d feel much easier when your husband helps me too through the day.

It’s already 4:30 am in the morning. The light’s already on, thanks God. I’d better get out of my room and start the day to make my morning feel manageable. Please, kiddos, be nice.

P.S : I wish I had chocolate