Category Archives: Curhat

Thanks God It’s Friday

Setiap ketemu hari Jumat dari dulu selalu bersyukur. Loh emang bukannya buat ibu yang kerja seharian di rumah semua hari itu sama saja? Haha ya enggak lah ya. Urus anak sendirian itu capek. Capek pikiran, hati, fisik. Bahkan bisa lebih capek dari kerja kantoran. Kalau weekend ya senang banget karena ada suami yang bantuin urus anak dan pekerjaan rumah. Trus bisa jalan2 sekeluarga buat refreshing. Sangat berharga buat saya yang sekarang makin jarang punya me-time. Jadi, saya bersyukur hari ini sudah Jumat. Besok weekend dan bisa jalan-jalan yayyy!

My Smiley Boy

Beda anak beda cerita. Anak saya yang kedua, baby D, yang masih bayi ini suka banget senyum. Gampang banget bikin dia tertawa. Trus beda dari kakaknya yang pas bayi cuma mau digendong oleh orang2 rumah atau yang sering dilihat, nah si baby D ini mah ga protes digendong sama orang baru ataupun sama orang yang jarang dilihat. So lucky to have this little guy in our family 😘.

7-months old baby D

Curhat

Dulu itu gw bukan orang yang suka curhat. Ke keluarga, orang tua, or even sahabat. Iya, gw emang termasuk anak yang supel (ciehhh..), suka banget ngumpul dan nongkrong ama temen2, anak extrovert sejati, tapi gw hampir ga pernah cerita masalah personal ke seorangpun sahabat gw. Kenapa ya? Ya gw mikirnya ngapain lah mereka tau. Biar gw aja yang cukup tau. What’s the use? Apa manfaatnya?

Sampai suatu hari, di tingkat akhir kuliah, gw ikut sebuah training yang namanya Self Insight Awareness Training. Intinya training ini melatih kesadaran kita, awareness kita, terhadap kemampuan diri DAN terhadap lingkungan dan orang2 sekitar kita. Nah pas training, ada 2x sesi dimana kita mesti ‘curhat’. Pertama, gw mesti curhat ke 2 orang teman yang notabene nya baru banget gw kenal di training itu. Cerita tentang apa aja. Kalau kita rasa orang itu ceritanya bener2 jujur, kita bisa beri apresiasi dengan cara berdiri setelah orang itu selesai cerita. Dag dig dug dong gueee… Gw belom pernah curhat2 even ke sahabat, tapi malah disuruh cerita ke orang ‘asing’ yang baru banget kita kenal. Akhirnya, dengan yang awalny terpaksa dan hati dagdigdugder, gw ceritain 1 hal yang sudah beberapa tahun jadi beban rasanya di hati gw. Setelah selesai cerita, ternyata 2 orang teman baru gw yang dengerin cerita gw pada berdiri. Legaaa banget ternyata curhatan gw bisa menyentuh dan diapresiasi mereka, orang yang baru gw kenal. Gw pikir2 ternyata ada untungnya curhat ke orang ‘asing’. Setelah curhat rasanya lega banget dan ga mungkin dibahas lagi kan oleh mereka. 

Kali kedua, curhat ke sahabat sendiri. Gw gatau gimana ceritanya gw di sesi itu berpasangan dengan Karin, one of my bestfriends yang berhasil gw racuni juga untuk ikut training ini. Entah dipasangkan atau milih sendiri. Kayaknya milih sendiri deh.. and we chose each other. Gw juga lupa sih curhatnya tentang apa lagi. Tapi sejak training itu, gw jadi merasakan manfaat curhat. Hahahaha.. kemana aje gue selama ini? Jadi sejak saat itu gw jadi pribadi yang lebih terbuka. Lebih leluasa menceritakan masalah2 personal ke sahabat sendiri. And I’m so glad with it. Bahkan sejak saat itu, sejak hidup gw dipenuhi dengan drama, gw jadi ratu drama dan ratu curhat, hahahah.. Sampe2 gw kayaknya pernah nanya ke salah seorang sahabat.. “lo pasti bosen ya gw cerita soal ini2 mulu dan ga selesai2?”. Hahaha, maklum, masa2 super galau saat itu.

Anyway, I thank God sampai sekarang masih selalu ada teman2 dekat yang bisa diandalkan telinganya untuk dengerin gw. Yang gak bosen2 dengerin keluh kesah gw. Meskipun terpisah ribuan kilometer jaraknya. Thank you, my friends… you are my best therapy… 

Juli yang Mellow

Mendadak mellow.. Sekarang jadi tau rasanya long distance marriage. Walau cuma berjarak 2 jam perjalanan, sabtu-minggu masih bisa ketemu, dan baru juga berjalan dari tanggal 1 juli kemarin, tapi yang namanya jauh dari pasangan terutama ketika masih ada bayi usia 2 minggu, it really feels sucks. Ditambah lagi nanti tgl.15 ditinggal full 2 minggu karena yang bersangkutan mesti training di jakarta. And I can’t go with him karena ada si baby yang sekarang masih berusia 2 minggu 5 hari ini. Untungnya kondisi ini akan cuma berlangsung selama 1 bulan. Then I wonder, gimana rasanya seperti beberapa teman saya yang lain yang lebih parah? Yang suaminya kerja di site pulang mungkin cuma sebulan sekali..??? Ditambah jika ada bayi baru lahir juga dan anak kecil yang frequently bertanya kapan papanya pulang pula. Pasti lebih mellow rasanya ya. Saya selalu berpikir, ngapain nikah kalau ujung2nya tinggalnya pisah? What’s the point of getting married then? Tapi ya memang mau gak mau beberapa dari kita mengalami hal itu. I used to love July, but not this time. I really wish July ends soon so my kids and I can be with him again…

(A bit late) 2016 Resolution

I never write down my annual resolution. But I think this year, I really want to be a more organized person. At least, start from my own wardrobe. It has to be neat and tidy everyday. Then secondly, I must consistantly put my own works for K’s preschool activity in the right folder. Can I do that? I must.

Friendship and Love Affair

Menurut saya, lebih nyebelin sakit hati sama teman daripada sama pacar. Kenapa begitu? Ya karena true friends are not supposed to hurt their friends’ feeling, right? Terlebih lagi yang udah masuk kategori teman dekat or best friend. Saya termasuk orang yang easygoing dan gampang akrab. Sejak jaman sekolah saya memiliki banyak teman akrab. Bisa dibilang saya tergabung dengan beberapa geng.. Ada geng temen kelas 3 sma, ada geng teman sma muslimah, ada geng BFF kuliah, ada geng ‘lansia’ dari siaware 16, bahkan saya jg dulu akrab dengan geng yang isinya orang cina semua, hahaha ya begitulah saya memang orangnya murahan. Gampang diajak jalan, nonton, makan. Begitupun ketika kerja, setiap masuk kantor baru, saya biasany pasti mudah dapat teman akrab. Salah seorang sahabat yang saya kenal dari MT program bilang kalau saya orangnya extrovert sejati.

Di tempat saya ditempatkan secara permanen, saya akrab dengan salah satu teman kantor cewek, yang sebenarnya dia cukup kebalikan dari saya, karena dia suka dandan, pake high heels or wedges, suka beli tas2/sepatu2 terutama bermotif leopard, seorang fashionista deh.. Tapi kami nyambung banget karena kami sama2 suka heboh dan usia dia cuma 2 tahun lebih muda dari saya. Kami di kantor kemana-mana lengket. Makan siang selalu bareng. Pulang sering nebeng orang bareng karena rumah kami berdekatan. Ketika saya sudah memiliki mobil, kami makin sering bareng, dari berangkat kerja sampe pulang kantor. Even ketika dia akhirnya juga mengendarai mobil sendiri, tak sering mobil kami beriringan berjalan ke dan dari kantor. Kalo dia ga masuk kantor, pasti saya ditanya “kemana mba M?”. Kalo saya ga ngantor juga orang pada nanyain saya ke dia. Everything seems allright sampai akhirnya saya mengetahui rahasia dia. Bukan sekedar rahasia tapi itu adalah skandal. Teman saya itu terlibat hubungan asmara (diam2 tentunya) dengan seorang manager kami. Awalnya saya hanya menduga, melihat betapa akrabnya mereka. Terutama pas kedua org itu ngobrol. Saya sering banget diajak makan siang di luar oleh teman saya itu bersama si pak manager. Kadang ramean, kadang cuma kami bertiga. Dan ya saya notice dong how they talked to each other. Tapiii saya nih orangnya selalu mencoba positive thinking. Ah paling deket biasa doang secara teman saya itu emang orangnya supel banget. Itu pikiran awal saya. Sampai akhirnyaaa saya gak sengaja melihat contact BBM dia, yang intinya membuktikan kecurigaan negatif saya bahwa ada apa2 di antara mereka. FYI, kenapa disebut skandal ya karena dua2nya udah married. Yang cewek baru married tapi LDM (suaminya kerja di site pulang tiap 2 minggu) dan langsung hamil setelag nikah, yang cowok juga still married that time dan udah punya 2 anak!

I just kept silent. She never told me a thing about her secret affair. Dia selalu menutupi dengan menceritakan betapa bahagianya dia dengan suaminya. Dia selalu ceria setiap saat di depan saya. Well, saya biarin aja deh. Kami baru akrab setahunan, mungkin affairnya sudah dimulai lebih lama dari itu juga, dan jika dia tidak mau menceritakannya ke saya, no problem. It was her own right. I won’t interfere or mencampuri urusan rumah tangganya. Palingan hubungan dia dengan si pak manager won’t last forever (pikir saya), karena si pak manager terbukti termasuk ‘pria nakal’, karena ada sekretaris lain yang digoda oleh dia ketika teman saya itu sedang cuti melahirkan. Apalagi setelah si pak manager tersangkut masalah dan ‘dipaksa’ mengundurkan diri dari perusahaan, lalu saya pun resign, dan sebulan kemudian teman saya itu juga resign. Saya kira their stories didn’t continue. Ternyata oh ternyata dugaan saya salah.

Meski sudah keluar dari kantor, somehow kuping saya tetap menerima gosip. Sumpeh, bukan saya yang kegatelan nanya2, tapi orang2 yang pada sukarela ngasih berita ke saya dan nanya2 ke saya soal teman saya itu. Setiap ketemu or chat sama orang kantor hampir pastiii ditanya soal teman saya itu. Wah, orang2nya udah pada keluar eh malah makin hot berita soal mereka. Dan justru makin jadi rahasia umum. Kenapa? Karena si pak manager tetiba menceraikan istrinya. Lalu kerja di Jakarta. Dan berita ultimate nya nihh… beberapa bulan kemudian, teman cewek saya itu juga cerai dari suaminya. Entah tau dari mana mereka, yang jelas bukan dari teman saya itu. Dia masih serba tertutup dan sempat memberi kebohongan kepada kami (teman2 dekat kantor). Dia bilang suatu saat bahwa hari lebaran kedua dia keliling2 ke bos-bos suaminya, padahaaaal suaminya sudah menikah lagi (gak lama dari cerai juga) dan foto pernikahan kedua sang mantan suami sudah beredar juga. Sebenarnya disitu saya sudah merasa kecewa. Why did she have to lie and pretend? Everybody else already knew. Didn’t she know that? Did she think I was that stupid? Ah saya mulai gak peduli dengan dia. Jika dia tidak peduli dengan perasaan saya yang pernah akrab dengan dia, so why should I care?

Sampai akhirnya dia mulai go public. Foto pak manager dan dia mulai nampak di sosmed, walau cuma tangannya doang or profil belakangnya doang. And still told me nothing. Lalu dia mulai sebar undangan dan foto prewed. Okay, I tried to understand. Mungkin dia dulu malu, mungkin dia sadar hubungan mereka diawalinya salah. Tapi kan udah ga malu lagi tuh, udah buka2an, harusnya saya, yang pernah akrab, cerita sana-sini, dan kemana2 suka bareng, bakal diundang dong ya ke nikahannya? Dia harusnya kenal saya gimana dan tahu dong ya kalau saya bukan tipe orang yang backstabber or suka buka aib teman sendiri ke orang lain, dan saya buka orang yang suka judging teman hanya dari penampilan or masalah luarnya saja. I am a very loyal friend. She should have known that. But still… saya gak diundang. Tak seorang pun orang kantor or yang pernah sekantor dengan dia diundang. Saya gak diundang sementara dia sebar2 foto nikahannya di sosmed. Saya jadi gak paham dengan dia. Dia masih sok akrab dengan saya di sosmed (ngomongin hal lain tentunya), tapi sama sekali gak undang saya.

I honestly wanted to congratulate her. However their relationship started, however we think about her new chosen husband, she seems much happier now. I hope that her new husband has really changed and not cheating anymore and their marriage lasts happily ever after. I really do hope so, since I cared about her, since she had also cared about me and helped me through a lot. I’d never judged her bad if only she shared her new happines with me, if only she just told the truth.

So until now, I never congratulate her. It did hurt me how she could do that. Jadi pembelajaran dari cerita saya ini apa ya? Bahwa meskipun kami sudah begitu sering saling menolong dan bercerita, but she never really thinks that I’m her true friend? Bahwa saya juga mestinya tidak terlalu baper kepada teman yang sudah saya anggap sahabat? Kesimpulan saya adalah ya she never really becomes my true friend, then. For now, I don’t give a damn about her.

Coming Soon 28

My 28th birthday is coming. I think I no longer feel very much excited with my own birthday since my 26th birthday. Anybody in the same shoes with me? Haha. It almost feels like your 20th birthday, recognizing you were no longer a teenager, but this time it feels worse. At least, people still consider you are young at twenty, right? When you’re thirty something, you’re not old yet but not also quite young. To make me feel much better, I think I’m gonna set a lifetime goal. I have to look much younger no matter how old I am! Thanks God, some people still think that my 2 year old daughter were my younger sister, hahaha.. Those people who thought so never fails making my day 😀

Some Things That Can’t Be The Same

Terkadang pertemanan memiliki konsep yang sulit. Of course, it gets complicated when friends become more than friends. It gets complicated when friends-becoming-lovers thing doesn’t work out. When they forgive and move on, they’d miss each other. Bukan merindukan bagian romansanya. Tetapi merindukan bagian indahnya pertemanan yang awalnya dulu terjalin. Dan mereka sama-sama tahu mereka tidak bisa kembali ke fase itu.  No matter how many laughs they shared when they were just close friends, things won’t be the same anymore. They can only move on and keep the good memories in their own mind.