Category Archives: Curhat

Socmed

Orang-orang menggunakan socmed dengan beragam alasan. Kalau saya menggunakan socmed seperti Instagram untuk dokumentasi kegiatan belajar sambil bermain saya bersama anak. Ini buat saya berguna banget karena saya bisa telusuri balik menggunakan hashtag terutama ketika saya memiliki anak kedua. Selain itu, dari Instagram saya mendapat banyak sekali teman baru, baik yang akhirnya bertemu walaupun belum pernah tatap muka, tapi mereka sudah sering menawarkan kebaikan pada say. Contohnya, ada yg tiba2 menawarkan untuk mendaftarkan nama saya untuk PO sebuah buku yang memang saya incar di sebuah acara di Jakarta, padahal baru kali itu dia chat saya. Selain itu, saya juga mendapat banyak ide main dari mereka via Instagram. Olshop juga menurut saya efektif sekali menggunakan Instagram, walau kadang annoying kalau isinya kebanyakan promote Olshop lain 😅 (biasanya langsung saya unfollow). Saya pun sekarang mencoba berbisnis jualan buku impor anak menggunakan Instagram. Oiya, berkat Instagram juga saya mendapat banyak hadiah (biasanya mainan anak) gratis. Lewat giveaway atau challenge biasanya. Lumayan banget hemat uang buat mainan anak. You know betapa mainan anak itu money consuming banget ya, gak ada habisnyaaa..

Nah terus ada juga dong yang menggunakan Instagram untuk show off semata. Yang bikin saya heran & geleng2 kepala. Contoh, bikin Instastory segambreng tiap check in hotel berbintang. Nyetir sambil Instastory view dari kursi mengemudinya (what the hell for??). Setiap foto wajib menampilkan brand produk bagus or nama hotel or mobilnya. Kita bisa bedakan lah ya, mana yang pamer mana yang enggak, liat dari esensi postingan nya ini, bermanfaat apa enggak sih. Posting 3 foto isinya gambar mobil mewah baru dan cerita baru beli, esensinya apa? Kecuali dia kasih tips memilih mobil setidaknya? Ini enggak. Besoknya dia posting baru foto sim A barunya. Errr.. biasa aja kali ah. Tapi untung saya bukan orang yang kompetitif alias cuek sama orang pamer. I mean, it’s still annoying of course tapi gak bikin saya sampe nyinyir juga via socmed. Kalau gitu ya sama aja dong gw dan dia. Everyone has a right to post anything they like in their accounts, so I don’t have right to protest. I can unfollow though hahaha. But I didn’t, karena saya gak terpengaruh dan gak iri sama sekali. Saya cuma iri sama orang yang smart dan berwawasan lebih luas dari saya. Postingan teman2 yang pamer cuma bikin saya menghela nafas dan geleng-geleng sambil rolling eyes hahaha. 

Saya sempat berpikir bahwa socmed itu cenderung memperlihatkan sisi aslinya seseorang. Seseorang yang kita lihat aslinya biasa saja, tapi di socmed bisa terlihat berbeda. Contohnya ada teman saya, laki-laki, kita sebut saja si A, kalau liat aslinya anaknya asyik, gokil, suka becanda, dan terlihat cool. Nyatanya, saya lihat postingan twitternya, jadi mellow abis. He wrote about his ex that he couldn’t forget in a bit of dramatic way. Trus teman saya yang lain bilang si A ini di path sombong banget tukang show off sampe dia KZL, padahal kalau kita lihat aslinya dia bukan yang dikit2 pamer, seperti “eh lihat nih CRV gw”, or “gw besok mau beli iPhone baru ah”. No, kalau aslinya biasa aja, terlihat humble wong kami pernah ngangkot bareng dan dia juga pas hangout di Jakarta maik motor. Tapi di socmed jadi agak seperti itu, contohnya lagi cuci Mobil CRV nya di-post. Jadi, ada apa dengan socmed? Bisa bikin seseorang yang sebenarnya bukan tukang pamer di kehidupan nyata tapi di kehidupan Maya jadi show off-er. Apa socmed menjadi wadah untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan di dunia nyata? Kan gak etis ya pamer by verbal di depan orang, tapi begitu berhadapan sama hape jadi bisa menuangkan yang sebenarnya ingin dipamerkan? 

Di sisi lain, kita gak bisa juga percaya 100% sama socmed. Socmed itu cuma nampilin sekian persen dari apa yang terjadi di kehidupan nyata. Di socmed orang bisa keliatan hidup di fairy tale, a hundred percent happy. Yang tentunya itu hanya ilusi. We all have our own problem and obstacles. Gak ada yang smooth seratus persen. Orang hura-hura bisa jadi untuk menutupi kegundahannya. Orang pamer2 bisa jadi karena dia insecure terhadap sesuatu. Saya sering posting activity sama anak saya setiap hari. Orang bilang saya rajin banget padahal urus 2 anak tanpa ART. Well, saya gak pernah aja posting sisi lain rumah saya yang berantakan, hahaha. Jadi, orang-orang pamer di socmed itu akan selalu ada, gak usah pusingin motifnya apa, but we shall never ever take them too seriously. What they display may hide something behind. Pinter-pinternya kita aja untuk mengikuti mana yang bermanfaat dan mana yang enggak. Jadi lah diri kita apa adanya, posting hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. 

Advertisements

To Jump or Not To Jump

Have you ever been in a phase where you questioned yourself about the reason of your existence in this world? 

“Why do I live?”

“What do I live for?”

“What if I decide to just die tomorrow?”

Then, you’d think about a slight possibility of doing suicide. You’d wonder “what if I kill myself?” 

You know, I’ve been there. I’ve been in that phase. Maybe 10 years ago, when I was in my first year of college. Oh no, I wasn’t depressed. I didn’t think so. I wasn’t depressed that I felt sad or lost my appetite or half alive. No, I didn’t feel all of that. I just wondered all of those questions, and those questions stuck in my head for days. I didn’t feel I wanna kill myself at all, I just wondered “what if?”, “What if I decide not to live anymore?” but without feeling, not even a bit, to really want to do it. I just imagined it. Then, suddenly, when I was imagining that I killed myself, I imagined my family. My parents especially. If I died that way, I could imagine that my parents, who had worked so hard to raise me and fulfilled my education need until I could enter this number one institute in my country, would feel terribly sad. If I killed myself, my parents would be sad, not only because of losing her child, but they might also blame themselves so I committed suicide. I knew they’d feel so. And I knew that they didn’t deserve it. I couldn’t make them sad that way, after all they had given and done to me. They didn’t deserve it. They deserve to be happy. 

Therefore, I knew the reason for me to live then. I’m gonna live to make them happy. I have to pay what they had done to me. That must be why I live for, right? After that, I felt relieved. I didn’t know what made me ever felt that way before. Maybe because I once disappointed my parents for my decision before. That’s why I felt sad for months. Although, I knew I shouldn’t feel guilty because I have a right to make a decision for myself, for what I feel is right for me. My parents should be more understanding, right? But my mother cried that time, then I felt guilty for a long time. So I thought, I had to prove them. I had to prove them that I made the right decision, that there was nothing my parents should worry about. I promised myself that I’m gonna make them happy in the future.

Right now….

I still think that my parents think I’m a failure. I may not be able to make my parents, especially my mother, happy now. I’m sorry, mother. I can only pray to God, that you’d somehow understand when the truth comes later. I hope you can forgive me by that time, if not in this time. I may not make you happy and smile now but I really pray to God that God always protects you and gives you health. Now I have another reason to live. My family. My husband and my kids. And God.

Happy Five

8.7.2012 – 8.7.2017

Five years of marriage.

And God has blessed us one adorable daughter and one cheerful son.

These five years have been the happiest years of my life.

And I am grateful everyday to God, for sending you to me, my husband.

Happy 5th anniversary 😊😘

Nearly Anniversary

Within 2 weeks, my marriage will step into 5 years old. For five years, I have been spending time with a same guy, which is my husband. And we’ve been blessed by two kids, a girl and a boy. Thinking back, I once wonder, what if I hadn’t gotten married 5 years ago? Or what if my husband and I decided to postpone having a child? If I hadn’t gotten married, I’m definitely still working. And I would be in Jakarta, or in any other city than Samarinda since I don’t like the city at all (I will talk about this in another post). If I hadn’t gotten married, I probably would travel a lot. I’d probably watch Coldplay concert last month. I’d probably still hang out with friends till midnight almost everyday, hahaha. But, I’ve been in that phase, and I was still lonely, even though I was surrounded by many fun friends. Well, I admit that there’s one thing I haven’t felt, which is the traveling part, so I couldn’t compare yet. But can anyone guarantee that I would be happier if my condition is different? If I am still free and single and can go anywhere I like? 

The answer is here..

Everytime I look at my baby’s face, I wish I could freeze time. I wish I could hug and kiss my baby as much as possible. I wish he didn’t grow up so soon. But I also can’t wait to see them growing and I don’t want to miss it, even just a bit. And everytime I feel my husband’s hand in mine and his chest in my cheek, I wish we could be like that forever. 

So, you know the answer. I’m truly happy with my marriage. My husband is not perfect but neither am I. My husband is not perfect but he completes me. He may not say “I love you” everyday, but I know he does. I know he is a very loyal husband and there’s no reason for me not to trust him and not think twice when he proposed a marriage. And you know what, we never fight for these years. Twice or three times in the early years of our marriage, there were “crash” moments between us, but it never stayed long, never made us yell or say bad words to each other. When it happened, when I or both of us got mad, I just cried and my husband made a silent treatment to me. But I’m glad in the last 3 years, we never get mad anymore. 

And as for the kids, I can’t imagine my life without them. When my kids were born, I found a new passion. To be their first teacher. To be their first best friend forever. So I don’t regret at all to have them as immediately as possible after we married. I don’t regret at all to choose these roles, a housewife and a mother. I am looking forward to many of our anniversaries in the future. 

Curhatan Tiap Pagi Saat Ini

Sering banget punya rencana seperti ini tiap malam : besok mau bangun siang dan gak usah masak! Mikirin rencana sederhana seperti itu buat seseorang yang memiliki peran sebagai ibu rumah tangga adalah sesuatu yang amat sangat menyenangkan. Tapi, tiba-tiba gw langsung inget sesuatu : gw lagi ada bayi woy! Langsung lah rencana sederhana namun berasa surga itu langsung lenyap seketika. Hahaha yah begitulah, kalau lagi ada bayi, yang bikin senang itu amat sangat tidak muluk2. Bukan lagi perlu nonton tiap minggu di bioskop atau karokean di Happy Puppy. Cukup mengimpikan bisa mandi lama sendiri tanpa interupsi tangisan atau teriakan, atau sekedar bisa begadang baca novel kesukaan atau maraton serial tv kesayangan tanpa memedulikan besok harus bangun jam berapa atau masak apa buat anak-anak atau harus kasih aktivitas apa buat mereka bermain sambil belajar.

Tapi, tau gak sih? Semalas-malasnya gw memulai hari tiap pagi, tapi tiap liat anak-anak bangun dan mereka tersenyum (terutama si bayi yang lagi lucu-lucunya hahaha), pasti langsung kembali semangat 45 untuk bersibuk-sibuk ria di rumah. Coz I know that this moment won’t last long and won’t last forever. My baby will only be a baby in short time. Soon in the future I’d feel how time flies seeing my children suddenly has grown up and I’d miss these moments. Jadi, seberapa rempongnya urus anak2 sekarang, I just have to enjoy it as long as they’re still little, coz they’re not little forever! Lalu tiba-tiba jadi mellow deh saya, hahaha.

#curhatanpagiharidikalayanglainmasijtidursementarasayaharussudahstandbydidapur

Thanks God It’s Friday

Setiap ketemu hari Jumat dari dulu selalu bersyukur. Loh emang bukannya buat ibu yang kerja seharian di rumah semua hari itu sama saja? Haha ya enggak lah ya. Urus anak sendirian itu capek. Capek pikiran, hati, fisik. Bahkan bisa lebih capek dari kerja kantoran. Kalau weekend ya senang banget karena ada suami yang bantuin urus anak dan pekerjaan rumah. Trus bisa jalan2 sekeluarga buat refreshing. Sangat berharga buat saya yang sekarang makin jarang punya me-time. Jadi, saya bersyukur hari ini sudah Jumat. Besok weekend dan bisa jalan-jalan yayyy!

My Smiley Boy

Beda anak beda cerita. Anak saya yang kedua, baby D, yang masih bayi ini suka banget senyum. Gampang banget bikin dia tertawa. Trus beda dari kakaknya yang pas bayi cuma mau digendong oleh orang2 rumah atau yang sering dilihat, nah si baby D ini mah ga protes digendong sama orang baru ataupun sama orang yang jarang dilihat. So lucky to have this little guy in our family 😘.

7-months old baby D

Curhat

Dulu itu gw bukan orang yang suka curhat. Ke keluarga, orang tua, or even sahabat. Iya, gw emang termasuk anak yang supel (ciehhh..), suka banget ngumpul dan nongkrong ama temen2, anak extrovert sejati, tapi gw hampir ga pernah cerita masalah personal ke seorangpun sahabat gw. Kenapa ya? Ya gw mikirnya ngapain lah mereka tau. Biar gw aja yang cukup tau. What’s the use? Apa manfaatnya?

Sampai suatu hari, di tingkat akhir kuliah, gw ikut sebuah training yang namanya Self Insight Awareness Training. Intinya training ini melatih kesadaran kita, awareness kita, terhadap kemampuan diri DAN terhadap lingkungan dan orang2 sekitar kita. Nah pas training, ada 2x sesi dimana kita mesti ‘curhat’. Pertama, gw mesti curhat ke 2 orang teman yang notabene nya baru banget gw kenal di training itu. Cerita tentang apa aja. Kalau kita rasa orang itu ceritanya bener2 jujur, kita bisa beri apresiasi dengan cara berdiri setelah orang itu selesai cerita. Dag dig dug dong gueee… Gw belom pernah curhat2 even ke sahabat, tapi malah disuruh cerita ke orang ‘asing’ yang baru banget kita kenal. Akhirnya, dengan yang awalny terpaksa dan hati dagdigdugder, gw ceritain 1 hal yang sudah beberapa tahun jadi beban rasanya di hati gw. Setelah selesai cerita, ternyata 2 orang teman baru gw yang dengerin cerita gw pada berdiri. Legaaa banget ternyata curhatan gw bisa menyentuh dan diapresiasi mereka, orang yang baru gw kenal. Gw pikir2 ternyata ada untungnya curhat ke orang ‘asing’. Setelah curhat rasanya lega banget dan ga mungkin dibahas lagi kan oleh mereka. 

Kali kedua, curhat ke sahabat sendiri. Gw gatau gimana ceritanya gw di sesi itu berpasangan dengan Karin, one of my bestfriends yang berhasil gw racuni juga untuk ikut training ini. Entah dipasangkan atau milih sendiri. Kayaknya milih sendiri deh.. and we chose each other. Gw juga lupa sih curhatnya tentang apa lagi. Tapi sejak training itu, gw jadi merasakan manfaat curhat. Hahahaha.. kemana aje gue selama ini? Jadi sejak saat itu gw jadi pribadi yang lebih terbuka. Lebih leluasa menceritakan masalah2 personal ke sahabat sendiri. And I’m so glad with it. Bahkan sejak saat itu, sejak hidup gw dipenuhi dengan drama, gw jadi ratu drama dan ratu curhat, hahahah.. Sampe2 gw kayaknya pernah nanya ke salah seorang sahabat.. “lo pasti bosen ya gw cerita soal ini2 mulu dan ga selesai2?”. Hahaha, maklum, masa2 super galau saat itu.

Anyway, I thank God sampai sekarang masih selalu ada teman2 dekat yang bisa diandalkan telinganya untuk dengerin gw. Yang gak bosen2 dengerin keluh kesah gw. Meskipun terpisah ribuan kilometer jaraknya. Thank you, my friends… you are my best therapy… 

Juli yang Mellow

Mendadak mellow.. Sekarang jadi tau rasanya long distance marriage. Walau cuma berjarak 2 jam perjalanan, sabtu-minggu masih bisa ketemu, dan baru juga berjalan dari tanggal 1 juli kemarin, tapi yang namanya jauh dari pasangan terutama ketika masih ada bayi usia 2 minggu, it really feels sucks. Ditambah lagi nanti tgl.15 ditinggal full 2 minggu karena yang bersangkutan mesti training di jakarta. And I can’t go with him karena ada si baby yang sekarang masih berusia 2 minggu 5 hari ini. Untungnya kondisi ini akan cuma berlangsung selama 1 bulan. Then I wonder, gimana rasanya seperti beberapa teman saya yang lain yang lebih parah? Yang suaminya kerja di site pulang mungkin cuma sebulan sekali..??? Ditambah jika ada bayi baru lahir juga dan anak kecil yang frequently bertanya kapan papanya pulang pula. Pasti lebih mellow rasanya ya. Saya selalu berpikir, ngapain nikah kalau ujung2nya tinggalnya pisah? What’s the point of getting married then? Tapi ya memang mau gak mau beberapa dari kita mengalami hal itu. I used to love July, but not this time. I really wish July ends soon so my kids and I can be with him again…

(A bit late) 2016 Resolution

I never write down my annual resolution. But I think this year, I really want to be a more organized person. At least, start from my own wardrobe. It has to be neat and tidy everyday. Then secondly, I must consistantly put my own works for K’s preschool activity in the right folder. Can I do that? I must.