Category Archives: Uncategorized

When People Asked Me..

Banyak yang heran dan bertanya pada saya. 

Kok bisa sih urus 2 anak sendirian di rumah ga pake pembantu?

Kok lo berani sih ditinggal suami keluar kota bertiga doang di rumah?

Kok bisa sih rajin siapin aktivitas anak tiap hari?

Sesungguhnya saya bukanlah ibu hebat. Saya jauh dari sempurna. Masih banyak minusnya. Cuma memang harus ada yang dikorbankan. 

Berkorban banyak sisi rumah yang berantakan. Berkorban baju gak disetrika 😂.  Berkorban me-time berkurang drastis. Berkorban bangun lebih pagi untuk mulai masak, supaya bisa lebih santai ketika anak-anak bangun. Berkorban tidur sedikit lebih malam untuk menyiapkan aktivitas belajar. Saya pun orangnya ga ambil susah. Jika suami keluar kota, saya suka gak masak (kecuali untuk bayi yah), karena males masak cuma buat makan sendiri dan anak balita. Bakal capek juga kan 2 harian (bahkan bisa 3 hari 2 malam) urus anak sendirian, jadi sedikit melonggarkan diri gapapa lah, beli makan di luar aja. Save tenaga 😂. Saya bukannya anti pembantu ya, cuma prinsip saya selama ini adalah selama bisa melakukan sendiri ya lebih baik sendiri. Jika suatu saat saya gak sanggup ya bisa jadi saya hire tenaga pembantu. 

Apakah saya selalu masak dari Subuh? Gak juga. Sejak 2 anak, saya lebih susah melek pagi tiap hari. Tapi kalau lagi kesiangan ya saya masak simple-simple aja paling. Saya kan bukan orang yang passionate di dapur ya, jadi seminim mungkin habiskan waktu di dapur lebih baik 😂. Gitu aja. Saya orangny gak ribet. Begitu punya anak, kita mesti berdamai dengan ketidaksempurnaan. Gak mungkin banget bisa happy urus 2 anak plus rumah bersih semua tapi masih punya kewarasan. Gak mungkin kecuali Anda adalah tipe Monica Geller mungkin? Hahaha. 

Capek? Ya iyalah capek. Tapi tiap merasa capek, begini mantra saya: “Mereka sebentar lagi juga gede. They’re not little forever. Just enjoy the moment”. Inhale exhale. Inner peace.. hahahaha. Maybe in the future I’m gonna miss the messy and noisy house? So just enjoy it.

Advertisements

Slogan

Kita semua pasti memiliki slogan-slogan tersendiri ya. Yang bikin kita semangat. Yang bikin kita survive. Yang bikin kita bisa menjalani hidup ini dengan waras. Inilah beberapa slogan atau prinsip-prinsip hidup saya so far.

1. Face Your Fear

Seorang teman pernah berkata pada saya, bahwa hanya sekitar 30% saja dari apa yang kita takutkan menjadi kenyataan. Dia bilang itu ke saya ketika kami akan menghadapi sidang S1 kala itu. Saya yang berkemampuan rata-rata dan tidak memiliki banyak kepercayaan diri, waktu itu sangat takut rasanya menghadapi sidang. Rasanya horror dan sudah membayangkan worst possible scenario. Ketika teman yang sudah lebih dulu sidang mengatakan itu, saya menjadi lumayan lebih tenang. Percayalah, ucapan positif sekecil apapun rasanya bisa membangkitkan semangat berkali2 lipat 😁.  Trus saya waktu itu juga mengikuti sebuah self insight awareness training, dan salah satu mentor mengatakan hal it berulang-ulang. Face your fear! Ketakutan jika tidak dihadapi akan selalu ada. Maka hadapilah, apalagi biasanya tidak semua ketakutan kita terbukti, karena itu biasanya hanya ketakutan semata. Setelah saya berhasil menyelesaikannya TA dan sidang, saya pun mendapat nilai triple A, saya merasa sudah berhasil menghadapi salah 1 ketakutan saya. Memang benar kok, tidak semua ketakutan terbukti. So, just face your fear.

2. Finish Off What You Started

Seperti membaca buku. Sebagai pecinta buku, begitu mulai membaca, rasanya harus menyelesaikannya sampai akhir, bukan? Pantang untuk berhenti di tengah-tengah. Nah, suatu hari saya sedang outbound training, yang mengharuskan saya untuk menuruni air terjun dengan hanya menggunakan seutas tali dan pengaman. Saya mengumpulkan nyali, karena please I had never done things this crazy before then. Ketika saya mulai turun, saya mungkin terpeleset lalu terhempas keras air terjun dan terlempar ke tengah air terjun. Saya teriak panik bukan main ketika muka saya terkena jatuhan air terjun yang kencang, rasanya seperti tenggelam. Hampir saya melambaikan tangan ke atas minta ditarik. Ingin menyerah. Tapi untungnya saya berpikir, “hey, I must finish this. I started it, so I must finish it“. After I took sometimes, pelan-pelan saya kembali ke posisi seharusnya dan pelan-pelan turun (sambil berdoa kencang). Entah gimana rasanya, campur aduk, antara adrenalin rush, takut, berani, mau nangis, semua jadi satu. Tapi, akhirnya saya berhasil sampai ke bawah. Ya ampuuunn, rasanya legaaaaa tak terkira. Rasanya pencapaian luar biasa sekali bisa menyelesaikannya sebuah tantangan yang luar biasa. 

3. Don’t Always Depend on Others

Maksud lainnya adalah lakukan sendiri apa yang bisa kita lakukan sendiri. Saya gak suka ngerepotin orang lain. Sebisa mungkin lakukan semua sendiri. Mungkin sejak saya memutuskan untuk keluar sari rumah orang tua sejak kuliah, saya jadi lebih mandiri. Lepas kuliah, saya langsung diterima di sebuah perusahaan nasional yang mengharuskan saya tinggal di mess selama training dan ditempatkan di luar pulau. Otomatis, saya terbiasa apa-apa sendiri. Dan sekarang, saya menjalani peran ibu rumah tangga, mengurus suami dan 2 anak sendiri, tanpa bantuan asisten. Nilai itu juga yang saya ingin tanamkan kepada anak-anak saya. Kemandirian. 

4. They Can Do, I Can Too!

Bukan maksudnya kompetitif ini ya. Percayalah, saya bukan orang yang kompetitif banget. Ya, mungkin SD – SMP 😂. Tapi sejak SMA biasa aja. Gak mesti harus yang terbaik, no. Maksud saya adalah dalam hal mencoba. Mencoba sesuatu yang baru terutama. Saya kalau liat orang lain mencoba sesuatu dan bisa, saya sering berpikir “maka saya juga bisa (mencobanya)!” Kalau mereka bisa berhasil, masa saya gak mau mencoba nya? Dengan kata lain, be optimistic! Kecuali pernah 1x saya memilih untuk tidak mencoba apa yang mostly teman-teman saya lakukan. Yaitu ketika mau arung jeram, trus diajak loncat ke sungai dari atas jembatan. I just feel like “NO FREAKING WAY!” Masalahnya saya gak bisa renang, takut banget tenggelam dan hanyut. Teman saya yang gak bisa renang juga loncat sih, karena di bawah sudah ada yang jaga juga. Tapi beneran deh, untuk itu saya nyerah angkat tangan. Nyali langsung minus, LOL.. Lagian ada 2 teman lain yang juga memilih lewat jalan lain, on foot, so I chose that safer way for me, hahaha. Tapi, mostly saya optimis kok. Buktinya saya berani melakukan rapling dan loncat dari atas pohon (karena ada safety harness tentunya hahaha). 

5. Everything Happens for A Reason

Ini mantra yang selalu keluar setiap sedang sedih. Atau dilanda musibah. Saya adalah termasuk yang percaya hal itu. Saya percaya Tuhan tidak akan membiarkan kita sedih selamanya. Jika kita kehilangan sesuatu, Tuhan akan menggantikan dengan yang lebih baik. Asal kita terus berusaha. Dan bersyukur. God is good. 

6. Be a Useful Person

Setiap saya posting kegiatan belajar sambil bermain bersama anak, bukan untuk pamer. Pertama untuk dokumentasi, yang sangat berguna ketika saya trace back untuk mencari ide main bersama anak kedua saya. Kedua, untuk sharing kepada para ibu lain. Banyak yang sudah DM saya, bilang terima kasih sudah share bermacam kegiatan yang mereka ikuti juga. Wah saya senang sekali. Pertama karena postingan saya bermanfaat, kedua karena saya jadi nambah kenalan baru. Saya juga ingin menularkan semangat saya kepada teman-teman saya yang lain. Ayo, didik anak kita semaksimal mungkin, karena masa mereka bersama kita orang tuanya itu pendek. Saya senang tiap ada teman yang juga termotivasi untuk mengajarkan anaknya. Saya lebih bahagia jadi orang yang bermanfaat. Kalaupun saya jadi orang kaya, saya ingin kekayaan saya pun untuk bermanfaat juga bagi orang banyak. Itulah salah 1 bentuk kedamaian saya. 

Yah begitulah, beberapa prinsip utama hidup saya. Selama kita masih hidup, rintangan akan selalu ada. Intinya percaya sama Tuhan dan percaya sama diri sendiri, bahwa kita akan jatuh tapi kita akan bangun lagi.

House with Kids

I don’t know why my house seems to be messy all the time. I kept tidying up but only last for mmm.. 15 minutes? Hahahaha I feel like I want to give up on tidying my house. I have two little kids, one of them is still a baby, so cleaning house is definitely like shoveling snow while still snowing 🤣. At least I have a vacuum cleaner, thanks to my husband who seemed to have a visionary thought to buy it even if he hadn’t gotten married that time. My life is easier when vacuum cleaner is around. At least. But still, now I wake up and my bedroom is full of toys everywhere. And kids’ books and used diaper. Fiuh. I felt scratch in my hand to tidy up all these mess, but my first priority in the morning is cooking. No, I don’t have a maid. So I need to do first thing first. Plus, I need to do laundry. Great, my task seems have no end. So, yeah, let the house be messy. I’ll clean up later when I can. The kids are gonna be grown ups soon, they are gonna leave the house someday. I probably will miss the mess 😂. So just enjoy this motherhood phase that won’t last forever. 

To My Talented Girl

K, jika kamu suka menggambar,

Menggambarlah

Gunakan imajinasimu tanpa batas.

Silahkan tuang apapun yang ada dalam benakmu ke atas kertas lewat coretanmu.

Gambar-gambarmu selalu memiliki makna, mama tidak pernah berpikir sebaliknya.

Setiap kamu meminta kertas untuk menggambar, mama berikan.

Itu adalah bentuk dukungan mama terhadap bakat & minatmu.

Menggambarlah. Berimajinasilah. 

Why SAHM?

Kenapa gw memilih jadi stay-at-home mother?

Ok, yang pertama, alasan awal gw resign dan memilih urus anak sendiri adalah karena ketidaknyamanan suasana kantor. Gak win-win solution rasanya kalau gw ga enjoy kerja dan ga enjoy mikirin anak diurus orang lain. So, mending gw pilih keluar dari kerjaan yang super ga nyaman itu.

Kedua, maybe because I am a bit of a perfectionist person. Ketika gw dapat ilmu2 parenting, gw merasa harus gw sendiri nih yang nerapin. Gw merasa orang lain ga akan bisa sesuai ekspektasi gw dalam asuh anak gw. Terutama kakek-neneknya ya, tau sendiri kan betapa soft nya mereka sama cucu2nya. Kalau terpaksa, gw lebih baik hire orang lain yang masih terbilang muda, yang masih bisa gw kasih tau, ajarin, educate sesuai yang gw mau. Kan mereka dibayar untuk itu toh? Tapi tetap rasanya gw ga percaya orang lain bisa sesuai ekspektasi. Kalau orang lain mungkin bisa ya gimana ajarin pengasuh buat ikut didik si anak. Kalau bisa ya it’s okay, karena jadi SAHM atau Working Mother itu sama2 bagus kok yang penting happy. Karena saya ga happy jadi working mother di kantor lama saya ya, I chose other option. Pun udah dapat pengasuh yang oke, entah gimana gw liat tetep banyak yang bertahan lama. Tetiba pulang kampung lah biasanya jadi mesti pusing lagi cari pengasuh baru, lalu adaptasi lagi, lalu ajarin lagi. Gitu terus berulang2. Kasus yang gw liat banyak banget terjadi di teman2 gw. Jadi, kalau gw sih lebih pusing punya pengasuh daripada kerja jauh dari anak. Buat gw sih ya begini, kan tiap orang beda2 toh..

Ketiga, karena gw jadi mikir untuk melakukan bisnis atau kerjaan freelance sendiri dari rumah. Kata siapa SAHM itu mesti ga bisa menghasilkan duit? Banyak teman wanita gw yang berbisnis sambil urus anak dari rumah. Trus kalau bosen di rumah ya keluar aja jalan sama anak. Or playdate-an, ajak teman lain yang juga punya anak untuk main2 bersama di mall or anywhere possible. This is what I often do. Saya ikut komunitas yang kegiatannya playdate2 bertemakan aktivitas bermain sambil belajar. Memang seharian ngurusin anak, ngobrol sama balita dan seharian dicerewetin sama anak tuh bisa bikin otak konslet memang 😁. Solusinya, ya kalau bisa kesepakatan ama suami untuk me time sejenak barang 2 jam aja itu udah refreshing banget. Kalau gabisa, playdate-an sama teman2 senasib itu juga membantu sangat. Jadi kata siapa SAHM itu melulu di dapur dan bau terasi? Hahaha, gw honestly jarang kali ke dapur.

Menurut gw, tugas jadi ibu itu udah berat. Pekerjaan tersulit namun dibayar termahal, karena dibayarnya dengan cinta. So, prioritasnya adalah bukan cari uang. Tapi cari kebahagiaannya dulu. Kalau memang happy nya kerja ya silahkan jadi working mother. Kalau happy nya ga kerja kantoran ya gausah pusing, jadi SAHM aja rasanya memiliki kepuasan tersendiri, biar suami yang bertugas utama cari uangnya. Kalau memang jiwanya SAHM, tugas utama kita ya keluarga kita, masalah uang sebaiknya tidak jadi fokus utama si ibu jika ada ayah yang bisa menopang keluarga. Kalau saya yakin, jika sekarang belum bisa aktualisasi diri dalam menghasilkan uang, akan ada saatnya nanti saya bisa ikut bekerja. Memang jika masih ada bayi dan anak balita masih sulit bagi waktu. Saya gamau terlalu pusing karena nanti malah anak terbengkalai. Kita bersabar aja, jika sudah waktunya dan ada kesempatan pasti bisa. Bener kan? hihi..

Belajar dari Office Boy dan Tukang Sayur

Ada seorang office boy kantor yang masih saya ingat dan kemungkinan besar akan selalu saya ingat, padahal cuma kenal selama 3 bulan. Dia mungkin menurut kalian hanya seorang office boy. Tapi sebenarnya buat saya semua pekerjaan itu penting. Tanpa office boy, siapa yang akan merawat kebersihan tempat kerja? Dan yang paling penting buat saya bukan melihat tingginya jabatan seseorang, saya paling suka liat orang yang kerjanya semangat dan ceria. Contohnya, si OB yang saya maksud ini. Namanya entah kenapa unik banget, namanya Emen. He might have been the most cheerful office boy I’ve ever seen. Tiada hari baginya tanpa senyuman. Dia bekerja dengan senyum. Bahkan sambil nyanyi2, saya liat dia sering ngepel sambil memasang earphone musik di telinganya. Dia sering ajak saya ngobrol, becanda, dan senyum. Saya sampai terharu liat dia. You know what it means? It means that he enjoys his job really much. It means that he is grateful everyday for his job. Terus saya jadi malu sendiri. Secara gaji, saya lebih besar, but I still complained a lot about my job. But then I looked at Emen, and realized that I should be more grateful and less complaining. I should enjoy more my job. Emen aja bisa enjoy dan menebar senyuman tulusnya dengan mengepel lantai, masa saya tidak bisa enjoy dan merengut ngerjain excel segambreng? Emen si Office Boy jadi reminder saya waktu itu untuk sering2 tersenyum dan menikmati pekerjaan kita, apapun bentuknya.

Kini, saya beralih status menjadi seorang stay at home mother (SAHM) alias ibu rumah tangga (IRT). I am very grateful for my current role. But I also wish for more. Saya ingin berpenghasilan juga walau jadi IRT. Saya ingin punya bisnis sendiri. Masih sering mengeluh sekarang kenapa saya belum punya skill yang pas buat berbisnis dan belum punya waktu yang lowong juga untuk menekuninya. Suami memang kerja, tapi selain ingin mandiri juga (in case kan terjadi sesuatu maka kita sebagai istri tetap bisa survive) juga karena ada rasa ingin aktualisasi diri. Ingin berkarya. Dan setiap melihat teman2 saya ada yang mulai bisnis sendiri meski sambil kerja, saya iri banget rasanya. Di tengah2 itu, saya merasa kembali diingatkan oleh Tuhan. Saya melihat tukang sayur langganan saya setiap hari tersenyum dengan ramah dan ceria setiap menghampiri saya dengan motornya. Meski baru kenal, dia bercanda terus bawaannya. Bahkan ngegaring, hahaha.. Saya mau keluar pun ia sapa. Again, saya merasa diingatkan untuk tetap senyum dengan keadaan saya. Tetap bersyukur masih diberi rejeki banyak walau saya ingin lebih. Kalau tukang sayur aja bisa enjoy jadi tukang sayur, maka saya harus bisa lebih enjoy dari dia menikmati peran saya. Saya harus bisa bersabar. Sambil mencari2 kesempatan bisnis dan belajar, saya mesti sabar karena memang saya sekarang masih rempong dengan mengurus 2 anak, satunya masih bayi 4 bulan pula. Saya yakin akan ada waktunya dimana saya bisa mulai bisnis dan saat itu saya bisa bereksperimen apapun. Sabar dan tetap ikhlas intinya ya… 

Belajar dari office boy dan tukang sayur.. Saya mendoakan yang terbaik buat mereka. Bagi saya, pekerjaan mereka sangat mulia, karena secara tidak mereka sadari, mereka mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan tersenyum di segala kesulitan dan keadaan. Hal yang sering sulit dilakukan dan dilupakan. Betul kan?

What do you love?

I love all kinds of chocolate..

I love the sound of the rain…

I love the cool air of mountain…

I love romance novels…

And mystery ones, as well…

I love crowd… but not too crowded…

I love the sky view from my window seat…

I love singing my favourite songs…

I love driving in my car…

And I always love being in the middle of my loved ones and make them laugh… 

Now you see, happiness doesn’t need to be expensive and complex.. It’s actually cheap and simple 🙂

Minuman favorit

Saya bukan penggemar kopi. Not good for my tummy. Minuman favorit saya yang pertama adalah hot chocolate, lalu teh susu (or milk tea or teh tarik) dan minuman yang seperti di foto di bawah ini nih, jahe merah.

image

Saya sih belum pernah nemu ada yang jual jahe merah di supermarket. Adanya jahe biasa dan saya tidak suka jahe yang dijual di supermarket-supermarket itu, karena rasanya terlalu manis. Jahe merah yang ini passss sekali rasanya. Rasa jahenya lebih kuat dan tidak begitu manis. Manfaat buat kesehatannya ada banyak yang tercantum di kemasannya. Salah dua dari manfaat yang pernah saya rasakan adalah mengurangi nyeri haid dan migrain saya. Karena sering sakit perut kalau ngopi, maka saya sering minum ini jika ingin begadang. I love you pokoknya deh, jahe merah.. Oiya ini bukan promosi, cuma cerita aja, haha..

Lupa Rasanya Muda

Seringkali gap yang terjadi pada hubungan antara orang tua dan anak disebabkan oleh perbedaan pola pikir. Orang tua dengan pola pikir lama. Anak memiliki pola pikir masa kini. Orang tua merasa pola pikir lama yang benar plus mereka jauh lebih berpengalaman daripada anak-anak mereka yang dibandingkan mereka belum tahu apa-apa. Padahal seiring perkembangan zaman dan teknologi, muncul banyak pengetahuan terbaru. Hanya saja banyak orang tua tidak menggunakan teknologi itu. They keep thinking that what they know is what’s best for their children. They often don’t want to hear about their kids’ knowledge.

Saat anak saya besar nanti, I don’t wanna be that kind of parent. Saya ingin terus memiliki pandangan yang terbuka. Akan wawasan baru. Akan pengetahuan baru. Akan teknologi terkini. Saya akan selalu meng-upgrade pola pikir saya. Karena saya ingin terus bisa selalu memahami pola pikir anak. Bisa selalu berpikir bersama mereka. Saya tidak ingin lupa rasanya menjadi muda. Saya harap tulisan ini bisa selalu menjadi reminder saya. Ya, saya harus menjadi orang tua yang seperti ini.

Hello!

This is my new blog. Turning a brand new leaf in writing. What happened to my old blogs? Oh, they still exist. I just feel like now I want to write whatever I like. On my last blog before this, I thought too much before writing. If I write this, is it useful, is it meaningful, is it proper topic for people to read, is it too lame, is it bla bla bla.. That lately, my writings mostly ended in drafts only, never posted. While what I’ve been posting, after I re-read it, just too lame. Too… well, I don’t know how to describe it. Long story short, I better make another brand new blog, I just wanna write whatever I want to write, whatever I enjoy, whatever in my mind. Not really care about other aspects.

Maybe, I’ll just start by telling who I am. My name is Hanifah. Currently 27 but soon to be 28 years old. Born in Jakarta, went to college in Bandung, then got married in 25 years old and lives with my husband in Samarinda. Blessed with a very active toddler girl named Kaira, currently 22 months old. Now I am a Stay At Home Mother (SAHM). I used to work in a company where I met my husband, but then I quit, to focus on raising my child. About other things about me, I guess I’ll write more in other posts. See ya!